Selasa, 17 April 2012

Masa Perkembangan Keterampilan Anak, Materi Belajar Menari dan Konsep-Konsep Koreografi.

Masa perkembangan kemampuan anak dalam belajar menari: Anak didik sebagai sasaran utama dalam proses pelaksanaan pendidikan drama tari, unsur yang ada pada siswa haruslah dipergunakan sebagai bahan yang mendasari kegiatan pendidikan drama tari. Untuk memahami karakteristik gerak siswa SD, kita harus memahami tingkat perkembangan siswa SD menurut tingkat usianya.
Secara umum sifat siswa SD antara lain :
1. Mempunyai sifat patuh terhadap peraturan
2. Kecenderungan untuk memuji diri sendiri
3. Suka membandingkan diri dengan orang lain
4. Jika tidak dapat menyelesaikan tugas maka tugas tersebut dianggap tidak penting
5. Realistis dan rasa ingin tahu yang besar
6. Kecenderungan melakukan kegiatan yang praktis dan nyata.

Ciri / karakteristik gerak anak :
1. Menirukan Apabila ditunjukkan kepada anak didik suatu action yang dapat diamati (observable) maka ia akan membuat tiruan itu pada sampai tingkat otot-ototnya dan dituntun oleh dorongan kata hati untuk menirukannya.
2. Manipulasi Pada tingkat ini anak menampilkan suatu action seperti diajarkan dan tidak hanya seperti yang diamati. Anak mulai dapat membedakan antara satu set action dengan yang lain, menjadi mampu memilih action yang diperlukan dan mulai memiliki ketrampilan dalam manipulasi implementasi.
3. Kesaksamaan atau precision Kemampuan anak didik dalam penampilan yang telah sampai pada tingkat perbaikan yang lebih tinggi dan memproduksi suatu kegiatan tertentu.
 4. Articulation Anak didik telah dapat mengkoordinasi serentetan action dengan menetapkan urutan atau sikuen tepat diantara action yang berbeda-beda.
 5. Naturalisasi Tingkat terakhir dari kemampuan psikomotorik adalah apabila anak telah mengalami satu action atau sejumlah action yang urut ketrampilan penampilan ini telah sampai pada kemampuan yang paling tinggi dan action tersebut ditampilkan dengan pengeluaran energy yang minimum.

     ( sunaryo : 1984) Dibawah ini tingkat perkembangan siswa SD menurut tingkat usianya:
1. Usia bermain Pada usia 4 – 6 tahun, anak masuk dalam kelompok bermain, maka kemampuan dalam menyerap materi tari juga masih juga bersifat bermain-main, belum dapat berlatih secara serius dan bersungguh-sungguh. Maka syarat materinya harus sederhana, praktis dan dinamis. Sederhana maksudnya adalah materi tari diambil dari gerak-gerak yang biasa dilakukan anak-anak sehari-hari, seperti bertepuk tangan, melonjak-lonjak, merangkak, berjalan, berlari, melambaikan tangan, mengangguk-angguk, berguling-guling dan sebagainya. Praktis maksudnya adalah materi tari dipilih dari gerak-gerak yang mudah (tidak rumit, tidak sulit), murah (tidak perlu mengeluarkan biaya kursus/latihan tersendiri), aman (tidak beresiko bahaya), umum (bisa dilakukan oleh siapa saja, tua, muda, laki-laki, perempuan), fleksibel (pantas dilakukan dimana saja, kapan saja, sopan/tidak mengandung resiko etika). Dinamis, artinya gerak-gerak yang disusun harus bervariasi, tidak membosankan, karena pada usia bermain anak belum bisa peka terhadap irama dengan ritme-ritme yang sulit, iringan tarinya biasanya monoton, maka geraknya dipilih yang berubah-ubah (meskipun berangkat dari pengulangan tetapi ditata dengan penambahan atau perubahan arah, sehingga tidak kentara pengulangannya).
2. Usia Transisi Usia transisi dalam belajar menari pada umumnya jatuh pada saat anak berusia 7 hingga 9 tahun. Pada saat ini anak tidak lagi main-main dalam belajar menari. Mereka sudah mulai bertanggungjawab dan bisa lebih berdisiplin atau tertib dalam berlatih atau belajar. Kemampuan anak pada usia inipun sudah setingkat di atas anak usia bermain, sudah dapat menghafal dan sudah mulai peka terhadap musik iringan tari. Oleh karena itu syarat materi tari untuk anak usia transisi ini sudah boleh mengabaikan kesederhanaan, tetapi syarat praktis dan dinamis masih harus diperhatikan, dan muncul satu syarat lagi yaitu ritmis. Artinya materi tari sudah dituntut adanya permainan ritme atau tehnik ritmika tertentu, baik ritmik gerak maupun ritme irama musik pengiring tarinya.
 3. Usia belajar Anak berusia 10 hingga 12 tahun masuk ke dalam kelompok usia belajar. Pada kelompok ini anak-anak sudah mampu menghafal, sudah peka terhadap iringan tari, juga sudah dapat membentuk diri/tubuhnya dengan sadar (dapat merasakan dan menjiwai) tentang keindahan gerak yang dibawakannya. Dengan kemampuan mereka ini, syarat materi tarinya haruslah ditambahkan syarat estetis, yaitu syarat materi tari dengan tehnik keindahannya. Syarat ini ditambahkan setelah syarat praktis, dinamis, dan ritmis telah terpenuhi. Dengan ditambahkannya syarat estetis pada materi tari bagi kelompok usia belajar ini maka kebutuhan akan ekspresi anak dapat terpenuhi karena dilayani dalam latihan yang merangsang pertumbuhan kemampuan ekspresinya. Untuk selanjutnya, hanya akan dibahas pembelajaran menari pada usia bermain saja. Pembelajaran menari pada usia bermain Mengingat anak usia 4-6 tahun temperamennya masih polos dan apa adanya, guru mempersiapkan banyak hal untuk dapat berhasil dalam proses pembelajaran dengan memuaskan.

1. Persiapan mental guru.
a. Yakin mampu: artinya guru harus yakin dan percaya diri bahwa guru pasti bisa mempengaruhi anak-anak belajar menari mengikuti semua ajakan guru dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh guru.
b. Kreatif: artinya guru dapat/ mampu menciptakan sendiri gerakan-gerakan sederhana tetapi praktis dan dinamis untuk diperagakan oleh anak-anak. Tidak hanya menjiplak karya tari orang lain.
 c. Inovatif: artinya guru dapat mencari sesuatu (ide, gagasan, model, gaya) yang baru, yang belum pernah dimunculkan orang sebelumnya. Hal-hal semacam ini seringkali berhasil minat anak karena anehnya, lucunya atau ingin ikut merasakan pengalaman baru itu.
d. Variatif: artinya guru mampu mengeksplorasi gerak-gerak musik iringan tari, atau gaya-gaya yang lain lagi asalkan kelihatan bermacam-macam, banyak ragam (beraneka), ini dapat mengatasi kebosanan anak. Guru dapat membuat variasi dengan arah hadap atau level yang berbeda misalnya, sehingga terjadi pengalaman yang berlainan.
e. Motivatif: artinya guru harus dapat mendorong semangat anak agar mau berpartisipasi secara suka rela, atas kemauannya sendiri, tidak terpaksa, tidak karena pertimbangan lain kecuali keinginan untuk ikut serta dalam kegiatan menari dan bergembira bersama teman-temannya yang lain. Ini juga merangsang ekspresi anak.
f. Simpatik: guru dapat menarik perhatian anak, baik dari peringai guru, sikap, cara berbusana (dengan bau/aroma mewangi/harum/segar tubuh guru), atau hal-hal kecil lainnya yang menarik perhatian anak, sehingga guru dapat leluasa mengajak/mempengaruhi anak untuk berbuat sesuatu sesuai dengan tujuan belajar menari, terutama dalam hal merangsang kebersamaan, kesetiakawanan dan kedisiplinan anak.
g. Improvisatif: artinya guru dapat mengangkat kejadian-kejadian atau perilaku-perilaku anak yang muncul tiba-tiba atau sewaktu-waktu sebagai bahan atau sesuatu yang bisa dijadikan materi atau pengalaman yang dapat dipelajari. Diangkat, dibahas, didiskusikan, dicari jalan penyelesaiannya dan diperoleh suatu pengalaman lagi.

2. Persiapan fisik pembelajaran Pembelajaran tari meliputi pembelajaran jasmani dan pembelajaran seni. Sangat berbeda dengan bidang studi yang lain. Oleh karena itu, guru perlu mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Materi Materi tari harus dipilih sesuai dengan syarat materi untuk usia bermain (sederhana, praktis dan dinamis), dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Media Guru juga dapat mempersiapkan media belajar yang dipergunakan untuk menarik perhatian anak ke arah/sasaran tema yang diharapkan oleh tujuan belajar.
c. Metode Artinya guru perlu memakai metode yang beraneka secara serasi, proporsional dan dapat mendukung proses belajar yang menyenangkan.
d. Fasilitas Guru harus bisa memfasilitasi ataupun menjadi fasilitator bagi pembelajaran tari, bukan sebaliknya guru malah menuntut sarana/prasarana yang tidak mungkin dikabulkan oleh pihak sekolah.
e. Organisasi pembelajaran Untuk mengatasi kemungkinan tempat, waktu, dan tenaga yang terbatas, dengan jumlah anak yang cukup besar, maka guru perlu mengorganisasi pembelajaran menari.
f. Fleksibel Sebaiknya guru dapat mengelola kelas menari secara fleksibel, yang dimaksud adalah bahwa guru tidak perlu terlalu mencermati pelaksanaan kegiatan belajar secara mutlak pada satuan acara atau skenario pembelajaran hingga tampak kaku, tetapi fleksibel saja, apabila ada kemungkinan munculnya improvisasi belajar, atau kondisi-kondisi mendadak yang lain, maka acara dapat disesuaikan sebagaimana mestinya, asalkan anak-anak tidak merasa terpaksa atau terkejut.

3. Prinsip-prinsip pembelajaran tari anak
a. Atur/kendalikan emosi Guru harus benar-benar mengendalikan emosinya sendiri, sekaligus emosi atas sebab akibat perilaku anak. Hal ini untuk mengatasi ketakutan anak.
b. Ajakan/informasi jelas Informasi atau ajakan yang diberikan oleh guru harus jelas, kalimat harus jelas, bahasa yang komunikatif, tatap mata yang terarah, jelas dan rata (semua anak merasa ditatap dengan akrab, tidak ada yang terlewati yang membuat anak merasa tidak diperhatikan).
c. Demonstrasi menarik Guru harus bisa demonstrasi memperagakan materi belajar menari saat proses pembelajaran berlangsung secara total dan ekspresif, tidak terhambat oleh perasaan tertentu.
d. Penguatan Memberikan pujian penyemangat secara adil dan progresif untuk memotivasi anak.

4. Beberapa kemungkinan kondisi anak dalam belajar menari
Pemilihan materi belajar menari berdasarkan 3 kelompok tujuan.
1. Tujuan Pembinaan Harian Artinya adalah pembelajaran tari dilaksanakan untuk kegiatan harian (per-pertemuan). Kegiatan ini dilaksanakan karena anak-anak perlu rutinitas yang menggembirakan, membuat mereka bersemangat, bebas berskspresi. Apabila kegiatan ini dilaksanakan sebaik-baiknya maka anak akan berperilaku secara total yang memungkinkan terjadinya dampak posistif pada anak, seperti badan menjadi segar, berkeringat dan sehat, atau tersenyum-senyum puas karena kebutuhan jiwanya terpenuhi. Pembelajaran tari yang dilaksanakan dengan tujuan pembinaan harian, meliputi latihan-latihan sebagai berikut: a. Latihan Motorik Corbin dalam buku Model Pengembangan Ketrampilan Motorik Anak Usia Dini mendefinisikan pengertian perkembangan motorik sebagai perubahan kemampuan gerak dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan kemampuan gerak (Sumantri, 2005: 48). Dalam mengembangkan kemampuan gerak anak, anak dilatih untuk mengenali anatomi tubuhnya. Misalkan, melatih kakinya untuk berjalan maju atau mundur, mengenal sebelah kiri dan kanan tubuhnya, bergerak memutar dan sebagainya.
b. Latihan Imajinasi Maksudnya adalah anak-anak diajak berimajinasi atau membayangkan berbagai perilaku binatang, berbagai permainan, suasana alam dan sebagainya. Ini berarti bahwa kegiatan menari dapat merangsang juga daya pikir dan fantasi anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sal Murgiyanto bahwa tari harus mampu merangsang pengembangan imajinasi dan memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk menemukan sesuatu (Murgiyanto, 1993).
c. Latihan Mental Dalam pembelajaran tari untuk tujuan pembinaan harian ini anak-anak dilatih mental dan spiritualnya. Bagaimana mereka belajar tertib melakukan urutan gerakan yang sudah disepakati, belajar bergerak bersama-sama temannya, belajar menari dengan berekspresi (tersenyum, bersedih, dsb), dan semuanya dilakukan dengan sadar dan senang hati. Dari latihan-latihan dapat kita lihat adanya pembelajaran sikap bertanggungjawab, disiplin, dan rasa seni yang terpancar dari jiwa anak-anak.
d. Pemupukan Minat dan Bakat (Kemampuan) Dengan adanya latihan tari ini, kita dapat mengukur tingkat respon anak, sensifitas anak hingga minat anak. Biasanya dapat kita lihat pada raut muka, tatap mata dan perilaku anak saat latihan ini berlangsung. Akan tetapi penelitian ini akan memerlukan waktu tertentu karena ekspresi anak bersifat temporal, tak menentu, tergantung pada kondisi emosionalnya.

2. Tujuan pentas Insidental Maksudnya adalah pembelajaran tari dilaksanakan untuk mempersiapkan anak-anak dalam mengikuti dan memeriahkan acara tertentu. Pada tujuan ini, materi pembelajaran sebaiknya menyesuaikan pada tema acara insidentalnya. Pemilihan anak adalah berdasarkan minat dan bukan berdasarkan pada kualitas koreografinya. Untuk durasi pertunjukan disesuaikan dengan kebutuhan acara pertunjukan, tetapi perlu diingat akan kualitas pertunjukan itu sendiri (membosankan atau tidak). Sehingga harus diatur sedemikian rupa agar pertunjukan tersebut tetap menarik atau berkualitas. Rias dan busana disesuaikan dengan tema pertunjukan dengan tidak mengesampingkan kondisi keuangan yang ada. Akan lebih baik jika guru mendayagunakan seoptimal mungkin benda-benda inventaris sekolah. Yang perlu dicermati dalam persiapan pentas ini adalah tentang pendanaan. Guru perlu meninjau dengan teliti kondisi, situasi dan kebutuhan acara sehingga pementasan akan sesuai dengan tujuan kegiatan atau acara dan tentu saja tidak menjadi beban dari sekolah.

3. Tujuan Kompetisi/Evaluasi Maksudnya adalah pemilihan materi pembelajaran tari dilakukan dengan pertimbangan nilai-nilai tertentu mengingat adanya persaingan dari kelompok-kelompok yang lain. Kualitas kelompok hanya akan terbangun oleh adanya dukungan anak-anak yang aktif, kuat, dalam kualitas gerak, pribadinya tegar, disiplin, berpikir cepat, berkemampuan fisik maupun psikis (bakat), serta berpotensi ekspresif maupun improvisatif. Materi yang dipilih adalah materi yang memungkinkan adanya semua dukungan agar tidak terjadi tekanan pada anak.
 Ada tiga bentuk penyajian lomba-lomba kesenian jasmani yang perlu diketahui perbedaannya:
1. Lomba tari Unsur penilaiannya diutamakan pada gerak dan koreografinya.
2. Lomba Senam Irama Unsur penilaiannya adalah unsur olahraga dan seni, dan mencakup tiga bagian: pemanasan, inti dan pendinginan. Gerak utamanya adalah gerakan olah raga (melatih kekuatan otot-otot tubuh) dengan diberi sedikit sentuhan estetika.
3. Lomba Gerak dan Lagu Unsur penilaiannya adalah pada gerak dan lagu yang dilakukan oleh anak. Wujud kegiatannya adalah menyanyi sambil menari. Gerak biasanya bukan merupakan presentasi dari lagu, sehingga gerak tidak dibuat dengan beban estetis yang terlalu tinggi yang akan mengganggu kualitas suara anak tersebut.

Konsep-konsep Koreografi Koreografi disebut juga sebagai komposisi tari merupakan seni membuat/merancang struktur ataupun alur sehingga menjadi suatu pola gerakan-gerakan. Istilah komposisi tari bisa juga berarti navigasi atau koneksi atas struktur pergerakan. Hasil atas suatu pola gerakan terstruktur itu disebut pula sebagai koreografi. Orang yang merancang koreografi disebut sebagai koreografer. Istilah koreografi pertama dikenal dalam kamus bahasa Inggris Amerika seputar tahun 1950-an. Sebelum istilah ini muncul, penamaan yang umum digunakan di film-film menyebutkannya sebagai "Ensembel pementasan oleh", "Tarian", "Pengarah Tari", "Pementasan tarian oleh", "Musical Numbers Directed by", atau "Musical Numbers Staged and Directed by".

Koreografer seringkali melakukan improvisasi untuk mencari hal-hal (gerakan maupun aksesori) yang paling sesuai dengan musik yang dimainkan. Meskipun biasanya digunakan di bidang seni tari, koreografi juga digunakan dalam berbagai bidang lain seperti: •Aksi tarung di panggung •Gimnastik •Ski •Pemandu sorak •Marching band •Opera Dan banyak aktivitas lain yang melibatkan aksi pergerakan manusia juga memanfaatkan koreografi. Berdasarkan pengalaman stimulus tingkatan perkembangan yang ada selanjutnya dijadikan orientasi garapan dan memunculkan ide sehingga gambaran konsep (hasil pengalaman masa lalu, pengalaman yang ada, ide kreatif) ke dalamannya dikaji secara benar sehingga maksud tari yang dibuat jelas dan konstruktif. Selanjutnya, berdasarkan pemetaan konsep dan ide garapan yang sudah dimatangkan disinkronisasikan ke dalam pemetaan lanjut dengan cara memperhatikan beberapa hal dibawah ini sebagai berikut: • Gagasan dasar dan latar belakang/tema tari sehingga tujuan yang digarap jelas. • Mengerti tentang keadaan, kebutuhan, penonton/lapangan kerja, • Gagasan dibuat artistik, orisionalitas, terutama dapat menimbulkan tanggapan emosional dan membangkitkan rasa, • Mempertimbangkan isi gerak, ruang, waktu, tenaga dan elemen komposisi • Mempertimbangkan pola garapan sebagai seni pertunjukan, • Mempertimbangkan koreografi Tunggal atau Kelompok.

 Dalam menata tari, sangat banyak istilah yang perlu diketahui. Diantaranya yang sering kita dengar adalah: a)Eksplorasi Proses pencarian, termasuk berpikir, berimajinasi, merasakan dan merespon. Di dalam koreografi, proses eksplorasi biasanya digunakan untuk menyebut kegiatan pencarian gerak.
b)Improvisasi Ditandai dengan adanya spontanitas. Gerakan yang dihasilkan mengalir begitu saja terjadi dengan mudah, dan setiap gerakan baru dapat menimbulkan gerakan lain yang dapat memperluas dan mengembangkan pengalaman. Gerakan yang dihasilkan dari improvisasi biasanya tidak dapat diulang kembali.
c)Komposisi Proses pemilihan, pengintegrasian, serta penyatuan dari gerak-gerak yang telah dihasilkan menjadi sebuah bentuk. Kesatuan yang terbentuk ini disebut tari.
d)Forming (Pembentukan) Membuat komposisi berarti kalian menata bagian-bagian yang saling berhubungan menjadi bentuk kesatuan yang utuh. Kemampuan dalam merangkai gerak tari ke dalam satu komposisi tidak dapat dipisahkan dengan kreativitas yan melalui tahapan seperti improvisasi dan eksplorasi, yang kemudian dipadukan dengan unsur-unsur yang terkait dengan pengetahuan tari dan artistic srta tingkah laku kreativitas maupun perkembangannya dan mempunyai tujuan. Menyusun atau mengkomposisi tari, memerlukan penekanan unsur tari dengan desain, irama, motivasi, ide. Dengan demikian unsur materi komposisi perlu dihayati dan dimengerti, metode penyusunan dan pengkombinasian berbagai unsur harus dipelajari dan dipraktekan. Sebagaimana yang sering dijabarkan bahwa materi dasar tari adalah gerak, maka belajar menari adalah belajar menguasai keterampilan psikomotorik dengan mengaitkan serta mengkoordinasikan gerakan-gerakan dari anggota tubuh. Dengan demikian pembelajaran gerak tari harus disesuaikan dengan kemampuan motorik siswa, yang bergantung pada kematangan otot.
e)Koreografi Lingkungan Hakekat seni sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Koreografi sebagai salah satu bidang seni, tentunya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan manusia. Artinya adalah, proses penciptaan tari harus dikembalikan kepada fungsinya bagi manusita itu sendiri. Sebuah karya koreografi adalah sebuah produk ciptaan manusia yang digunakan untuk berinteraksi baik dalam hubungannya dengan Tuhannya, dengan alam sekitar, dan manusia lainnya. Jadi sebuah keprihatinan apabila sebuah karya koreografi hanya berfungsi sebagai tontonan semata dan mengabaikan hakekatnya seperti yang kita dapati dalam berbagai pertunjukan. Berdasarkan uraian di atas, muncul sebuah konsep baru di dalam penciptaan seni pertunjukan. Konsep baru ini disebut dengan koreografi lingkungan. Koreografi lingkungan adalah proses penciptaan tari yang menitikberatkan pada kepedulian terhadap lingkungan, hasil akhirnya adalah sebuah karya seni yang dapat kita jadikan berisi nilai-nilai tentang lingkungan yang dapat kita jadikan renungan dan penyadaran. Konsep ini dikemukakan pertama kali oleh Prof. Sardono W. Kusumo, salah satu maestro tari Indonesia, yang karya-karyanya diakui oleh dunia. Dan sekarang konsep ini banyak dipelajari, dipakai dan dikembangkan oleh beberapa Perguruan Tinggi Seni di Indonesia. Materi yang diangkat menjadi tema pada koreografi lingkungan ini bisa keindahan alam sebagai pendukung dari nilai estetis karya koreografinya, ada yang berupa keprihatinan terhadap masalah-masalah dan kerusakan yang terjadi di lingkungan, ada juga yang menitikberatkan pada nilai historis dari sebuah tempat, atau juga ada yang berangkat dari adat turun-temurun di suatu tempat.

Salah satu contoh bentuk koreografi lingkungan adalah “Hutan Plastik” karya Sardono W. Kusumo. Karya ini mengangkat isu tentang penggundulan hutan sekaligus juga isu tentang serbuan barang-barang yang terbuat dari plastic di sekitar kita. Plastic adalah barang yang tidak bias didaur ulang oleh alam. Sehingga melalui karya ini koreografer mengajak kita untuk berpikir, membayangkan hutan yang gundul yang kemudian digantikan oleh tumpukan plastik. Karya lainnya adalah “Tatto Totem Parangtritis” oleh Bernadhetta ‘Kinting’ Sri hanjati. Koreografi ini mengangkat keindahan alam pantai Parangtritis untuk mengangkat estetika tat arias dan busana juga body painting yang disajikan. Dipentaskan tanggal 27 & 28 Juni 2004 di pantai Parangtritis. Contoh yang lain adalah “Asmaradana Sendang Kasihan” oleh Hendro Martono. Dipentaskan pada Sabtu (11/12) dan Minggu (12/12) pukul 19.30 WIB. Sendang kasihan adalah sebuah sumber mata air di Yogyakarta yang kini setiap harinya digunakan untuk mandi, mencuci, dan berenang bagi masyarakat sekitarnya. Latar belakang legenda sejarah sendang Kasihan merupakan awal gagasan menyusun koreografi ini. Sehingga pertunjukannya adalah rekonstruksi Sekar Pembayun pada waktu melakukan tapa kungkum di sendang Kasihan ini, lalu bersalin rupa menjadi penari ledhek (tayub). Gagasan tersebut berkembang dan berinteraksi dengan keruangan dan ketubuhan yang telah ditawarkan oleh sendang Kasihan. Melalui pendekatan koreografi lingkungan yang memanfaatkan unsur-unsur alam sebagai penopang aspek estetitis. Diharapkan terjadi simbiosis mutualisme antara sendang dengan koreografinya. Selain contoh di atas, masih banyak contoh-contoh karya dengan konsep koreografi lingkungan. Singkatnya, dengan menciptakan karya-karya koreografi lingkungan, maka kita akan melakukan sesuatu yang berguna bagi diri kita sendiri, orang lain dan lingkungan kita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar