Showing posts with label metode pembelajaran dan pengajaran ips. Show all posts
Showing posts with label metode pembelajaran dan pengajaran ips. Show all posts

Thursday, September 5, 2013

IMPLIKASI KEAGAMAAN PENDIDIKAN PESERTA DIDIK TERHADAP IPS, SIFAT INGIN TAHU PESERTA DIDIK DAN IPS

A.    Pengartian Anak Didik

Anak didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan. Sosok anak didik umumnya merupakan ssosok anak yang membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan, ia adalah sosok yang selalu mengalami perkembangan sejak lahir sampai meninggal dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara wajar (Sutari Imam Barnadib, 1995; dalam buku Ilmu Pendidikan, Dwi siswoyo dkk. 2007). Istilah peserta didik pada pendidikan formal atau sekolah jenjang dasar dan menengah dikenal dengan nama anak didik atau siswa.
Anak didik sangat tergantung dan membutuhkan bantuan dari orang lain yang memiliki kewibawaan dan kedewasaan. Anak didik masih dalam kondisi lemah, kurang berdaya, belum bisa mandiri dan serba kekuramgan dibanding orang dewasa, namun dalam dirinya terdapat potensi bakat-bakat dan disposisi luar biasa yang memungkinkan tumbuh dan berkembang melalui pendidikan. Beberapa hakikat anak didik dan implikasinya terhadap pendidikan, yaitu:
1.      Anak didik bukan merupakan miniature orang dewasa, akan tetapi memiliki dunia sendiri.
2.      Anak didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi periodesasi perkembangan dan pertumbuhan.
3.      Anak didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang menyangkut kebutuhan jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi.
4.      Anak didik adalah makhluk Tuhan yang memiliki perbedaan individual.
5.      Anak didik terdiri dari dua unsur utama, yaitu jasmani dan rohani.
6.      Anak didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.

B.     Pengaruh Pendidikan Agama pada Siswa
Pendidikan, apa pun jenisnya, pasti punya pengaruh pada yang terlibat di dalamnya. Terutama pada siswa. Pengaruh ini, bukan sebatas kecerdasan dan kecendiakaan saja. Pengaruh ini, terobosannya, sampai pula menyentuh relung-relung terdalam jiwa siswa. Juga, menyentuh kesadaran siswa terhadap kenyataan di dalam dan di luar dirinya. Disamping, tentunya, menyentuh kesadaran spiritual siswa.
Bicara soal kesadaran spiritual siswa, tak bisa lepas dari masalah agama. Dengan demikian, tak bisa lepas pula dari pendidikan agama yang siswa dapat di sekolah.
Pendidikan agama, memang, pengaruhnya lebih dominan memperkaya dan mempertebal kesadaran spiritual siswa. Kesadaran mana, terejawantah lewat sikap dan laku selaras agama anutan mereka. Namun demikian, bukan berarti, pengaruh lain pendidikan agama tidak ada pada siswa. Pengaruh lain ini, lebih dari satu. Apa saja rupa pengaruh itu?
1) Pengaruh Psikologi
Pada dasarnya, bidang-bidang pokok bahasan yang ada dalam kurikulum agama menyangkut etika, filsafat dan kaidah-kaidah serta akidah-akidah yang menyangkut tata pelaksanaan praktis agama. Baik etika,filsafat maupun kaidah-kaidah dan akidah-akidah, disadari atau tidak, secara psikologi telah membentuk jiwa siswa. Membentuk bagaimana? Etika, menjadikan jiwa siswa faham akan pekerti dan budi laksana yang diwajibkan agama. Faham dimaksudkan disini, bukan sebatas tatanan teoritis saja. Melainkan, juga, faham menjalankan dalam mekanika praktek nyata. Dengan demikian, secara bertahap, jiwa siswa terbentuk kearah karakter aagamawi. Karakter agamawi, pada dasarnya, karakter yang tegar menegakkan nilai-nilai agama kapan dan di manapun. Arah karakter agamawi ini jauh dari maksud membentuk kader-kader agama berpandangan pundamentallistik ekstrim. Sebab manusia berkarakter agamawi, manusia yang jiwanya dibuka lebar-lebar oleh agama. Ini berarti agama berkarakter agamawi bukan manusia yang jiwanya diblelenggu agama, sehingga memandang agama sebagai satu-satunya azas hidup yang paling mulia.
Pada hakekatnya, manusia yang berkarakter agamawi, manusia yang telah dilarahkan agama sebagai sosok atau figur beragama yang punya persepsi dan visi agama luas. Sebab, etika yang ditransformasikan dalam pendidikan agama, bukan belenggu yang diikatkan pada jiwa siswa. Melainkan, cahaya budi yang dipancarkan guna memperluas pandangan mata jiwa siswa.
Kemudian filsafat membentuk jiwa siswa agar menjadi kritis. Kritis dalam hal menaggapi terobosan-trobosan yang ditimba dalam dunia sekolah. Dengan demikian, bisa diartikan, pendidikan agama disekolah berperan serta membentuk umat beragama yang kritis konstruktif.
Sesungguhnya makin klritis umat satu agama, makin tangguhlah umat agama bersangkutan. Terlebih sifat kritis yang dimiliki bernilai konstruktif. Sebab, tanpa memiliki umat kritis konstruktif, agama bersangkutan sulit menjadi makin tangguh dan kokoh. Agama, betapapun, tak bisa lepas dari umat penganutnya. Umat agama yang kritis konsumtif, pada dasarnya, umat agama yang tangguh. Umat agama yang tangguh, pada dasarnya umat yang setia. Siswa yang kritis konstruktif sebagai umat, dengan demikian, siswa yang tangguh dan punya nilai kesetiaan pada agama anutan mereka sangat luar biasa. Karena itu, dengan tidak meragukan lagi, siswa seperti itu, siswa yang menjalankan kaidah – kaidah dan akidah-akidah agama dengan ketangguhan dan kesetiaan sangat luar biasa.
2. Pengaruh Sosial
Pendidikan agama, bisa dipastikan, mengajarkan pula kepada siswa: menghargai dan meletakkan pada posisi sesama pada proporsi yang layak. Inti ajaran ini, sedikit banyak ternukil pada pengarahan untuk menjungjung kebaikan dalam mengemban hidup bersama. Dalam arti lain, mengemban keseimbangan kosmos sosial atau keseimbangan kosmos kemasyarakatan. Menunjuk hal terakhir tadi, bisa dikatakan, pendidikan agama berpengaruh terhadap pribadi siswa untuk bisa meletakkan diri sebagai individu dalam jagat kemasyarakatan. Atau, berpengaruh terhadap pribadi siswa untuk berperan aktif dalam menegakkan tata kehidupan bersama.
3) Pengaruh Manusiawi
Perihal pengaruh manusiawi pendidikan agama pada siswa, kebenarannya sudah tak bisa ditolak lagi. Kenapa? Pendidikan agama, adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia, artinya menjadikan manusia lebih faham dan lebih menghayati perihal keberadaannya sebagai manusia. Juga, sebagai sosok bereksistensi. Bisa nuga dikatakan, menjadikan manusia yang lebih tahu dan lebih kenal fitrah dirinya sendiri.
Manusia yang kenal dirinya sendiri, sesungguhnya manusia yang telah matang pengetahuannya tentang harkat dan hakekat manusia. Manusia yang kenal diri sendiri, sesungguhnya, manusia yang mempunyai kesadran nya terhadap nilai jati diri manusia. Manusia yang kenal diri sendiri, sesungguhnya manusia yang yang terdidik untuk mengajengi prinsip: manusia dilahirkan untuk meletakkan sesama sebagai makhluk mulia ciptaan Yang Maha Mulia.
Dari sini, bisa ditarik garis kecil estimasi. Yakni, pendidikan agama, menjadikan siswa bukan hanya sadar akan eksistensinya sebagai manusia individu saja. Melainkan juga, menjadikan siswa insyaf terhadap eksistensinya sebagai makhluk sosial. Ini berarti, siswa dijadikan sebagai sosok yang tidak secara membabibuta mengukuhkan ego atas eksistensinya. Ego, memang fitrah manusiawi manusia. Namun meletakkan ego di atas eksistensi kemanusiaan, sama dengan menceburkan fitrah manusiawi sendiri ke parit individualistik ekstrim. Pendidikan agama, jelas, bukan menjadikan siswa sebagai manusia yang menyetiai individualistik ekstrim. Sebab ini, bukan memanusiakan manusia.

C.    Hubungan Agama dengan Ilmu Pengetahuan Sosial
Dalam situasi yang semakin global seperti sekarang ini manusia dibedakan kepada berbagai tantangan, disamping peluang dan kesempatan dalam keadaan demikian dijumpai adanya manusia yang berhasil menyikapi kehidupan global secara lebih bermakna dan berdaya guna, tetapi malah ada juga yang tidak tahu arah yang harus dituju.
Dan ilmu pengetahuan sosial diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif strategis bagi pengembangan manusia pada situasi global sekarang ini. Namun, demikian ilmu pengetahuan sosial dinilai sudah mulai atau hampir gagal dalam memberikan pemecahan masalah sosial yang muncul dalam era globalisasi, karena dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang dijadikan landasan dalam ilmu pengetahuan sosial tersebut berasal dari filsafat Barat yang bertumpu pada logika rasional dan cara berpikir empirik.
Dan salah satu upaya mengatasi kebuntuan dari ilmu pengetahuan sosial yang demikian itu, agama diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap berbagai masalah yang berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik, keamanan maupun kemakmuran, dan lain sebagainya. Sehingga kehadiran agama tersebut secara manfaatnya para penganut agama.

D.    Implikasi Keragaman Pendidikan Anak Terhadap Pengajaran IPS
Untuk dapat menghadapi bahan belajar dengan baik, siswa dituntut menunjukan adanya perhatian.Perhatian seseorang terhadap sesuatu tampak dari gerak-geriknya. Misalnya hal itu tampak dari bagaimana ia melihat benda yang dihadapinya. Dengan perkataan lain perhatian akan tampak dari cara bagaimana ia “menghadirkan” dirinya terhadap sesuatu. Sebagai contoh apabila seorang guru sedang berdiskusi dengan siswa-siswanya tentang sesuatu masalah diharapkan semua peserta diskusi menghadirkan diri masing-masing untuk memecahkan masalah.Apabila terjadi yang demikian maka kita dapat menyatakan bahwa mereka menaruh perhatian dalam diskusi. Akan tetapi apabila beberapa peserta berbicara dengan temannya tentang hal lain kita katakan mereka tidak memperhatikan terhadap apa yang sedang dihadapi. Parhatian tertuju pada sesuata yang tetentu, tidak bersifat menyebar tak terbatas.
Perhatian menjadi titik awal yang mengarah pada belajar.Perhatian menjadi prasyarat dalam belajar. Dengan adanya perhatian si pelajar akan menghadirkan diri dan mereaksi sedemikian rupa terhadap stimulus. Dengan demikian terjadilah peristiwa belajar, walaupun mungkin tidak disadari sepenuhnya.Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan peristiwa berkesinambungan selama kita sadar dan mereaksi terhadap setiap stimulus. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa belajar akan terjadi selama seseorang memperhatikan apa yang dihadapinya.
Perhatian bukanlah belajar, namun dengan belajar akan timbul ketertarikan oleh sesuatu yang dihadapi. Dengan demikian perstiwa belajar diharapkan dapat terjadi.Maka ada penulis yang beranggapan bahwa perhatian dapat dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum.Namun perlu diingat bahwa yang dijadikan acuan bukan perhatian siswa pada masa anak.Sebaliknya, yang dapat dijadikan acuan ialah perhatian yang “baru” diarahkan.Apabila perhatian masa anak-anaknya yang dijadikan acuan berarti mengacu pada perhatian yang masih terbentuk, masih sempit dan masih aneh.Oleh karena itu, perhatian yang menjadi acuan adalah yang sudah mendapat warna dari pengaruh pendidikan di sekolah.
Pada umumnya perhatian anak-anak masih belum dapat bertahan lama.Oleh karena itu guru seyogyanya mampu membangkitkan perhatian siswa.Hal ini mungkin dicapai dengan jalan penngalan waktu di SD tidak terlalu panjang.Disamping itu peristiwa belajar diusahakan cukup bervariasi.Yang lebih penting adalah perlu diusahakan supaya sajian dapat menarik siswa. Guru dituntut bukan hanya berupaya mengarahkan perhatian siswa agar tetep terjaga, melainkan juga tetap mengarahkan perhatian siswa kepada hal-hal pokok. Kenyataannya perhatian siswa SD, terutama kelas rendah hanya dapat bertahan singkat, berarti dalam waktu tertentu perhatian mereka terarah pada banyak hal.Perhatain anak juga mudah beralih.Perhatian mereka tidak mudah terarah pada suatu pokok saja. Akibatnya hanpir sama dengan daya tahan perhatian anak. Hal ini selanjutnya berarti bahwa dalam jangka waktu tertentu anak-anak dapat tetarik pada banyak hal.Dalam waktu tertentu perhatian mereka berpindah-pindah.
Selanjutnya ada sifat anak yang perlu mendapat perhatian kita. Pada umumnya anak-anak tertarik cara kerja benda-benda. Hal ini tidak mengherankan karena umumnya anak tetarik oleh sesuatu yang bergerak.Akibatnya selanjutnya ialah anak ingin mengetahui sebab terjadinya sesuatu.Yang juga berarti mereka ingin tahu bagaimana timbulnya sesuatu, yang membawa anak tertarik kepada sejarah timbulnya sesuatu.Oleh kerena itu dalam batas tertentu mereka tertarik oleh sesuatu yang berjauhan juga.Jauh dalam arti jarak maupun dalm arti waktu, ialah sesuatu yang jauh dan tentang zaman lampau.
Dari gambaran di atas dapat dikatakan bahwa anak hidup dalam dunia yang beragam dan imaginatif.Agaknya sifat IPS yang terpadu dengan pendekatan multi atau interdisipliner dapat mewadahi keragaman perhatian anak.Bahan belajar dalam IPS cukup beragam.Yang mungkin sulit ditangani ialah supaya bahan yang beragam itu dapat lebih “hidup”.Artinya supaya para siswa ditangani untuk mencurahkan perhatian mereka terhadap berbagai segi kehidupan masyarakat secara luas.

E.     Sifat Ingin Tahu Anak Didik Terhadap IPS
Sifat keingintahuan anak begitu besar.Keingintahuan paling tidak seiring dengan perhatian.Ditinjau dari segi belajar maka keingintahuan juga merupakan gerak awal menuju belajar.Keingintahuan merupakan dorongan untuk mengeksplorasi dunia sekeliling.Sehubungan dengan itu anak yang rasa ingin tahunya besar biasanya mempunyai pengalaman yang luas, mempunyai kemampuan tinggi dan lebih berhasil dalam menghadapi dunia luar.Tindakan eksploratif memungkinkan si anak mencari terus sampai keingintahuannya terpuaskan.Akan tetapi sifat ingin tahu umumnya tidak bersifat siklis melainkan bersifat spiralis. Artinya pada saat ingin tahu awal terpuaskan maka apa yang dihadapi telah berubah ke arah di atasnya. Hal ini akan memacu keingintahuan berikutnya, dan begitulah seterusnya. Dengan demikian maka sifat ingin tahu akan terus tertantang. Hal semacam ini agaknya lebih menantang pada anak dari pada orang dewasa.
Ditinjau dari anak maka usaha mengeksplorasi sebagai pencerminan keingintahuan akan memberi pengalaman yang memuaskan. Pengalaman seperti itu mungkin akan memacu untuk terus melakukan eksplorasi. Sedangkan apabila hasil eksplorasi itu memberikan pengalaman yang tidak memuaskan hal ini akan menghambat eksplorasi berikutnya. Jadi guru perlu waspada dalam mendorong belajar, khususnya banyak belajar bahan IPS.
Keberhasilan dalam menunaikan eksplorasi mempunyai dampak yang besar dalam kegiatan belajar.Hal ini mencerminkan keberhasilan dalam memenuhi keingintahuan dan mempunyai hubungan positif dengan kepercayaan diri. Kepercayaan diri juga akan memberi pengaruh kepada usaha memenuhi keingintahuan. Yang selanjutnya kepercayaan diri mendorong untuk mencapai hasil belajar yang tinggi.Jadi antara keinginan bereksplorasi dan kehendak mencapai hasil yang tinggi terhadap hubungan.
Karena sifat ingin tahu sangat erat dengan perhatian maka dampak sifat ingin tahu tidak akan jauh dari dampak perhatian. Perhatian dan sifat imajinatif mendoring seseorang untuk lebih tahu. Gejala-gejala kehidupan dalam masyarakat begitu kompleks.Banyak peristiwa dalam masyarakat yang sebab musababnya bersifat berangkai.Hal-hal tersebut dapat mendorong para siswa untuk menyusun hipotesis tentang kejadian sebenarnya atau sebab-sebab timbulnya.Para siswa didorong untuk mencari berbagai kemungkinan asal-usul atau sebab-musabab timbulnya sesuatu.Hal ini dapat dipergunakan dalam pengajaran IPS yang sering menghadapi hal-hal yang sifatnya tentative.



DAFTAR PUSTAKA

Djodjo Suradisastra, dkk. 1991. Pendidikan IPS 3. Jakarta: Depdikbud.
Dwi Siswoyo, dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
http://tugasakhirskripsi.blogspot.com/2009/10/hubungan-agama-dengan-ilmu-pengetahuan.html

METODE PEMBELAJARAN DAN MODEL PENGAJARAN IPS

A.    Metode-metode Pembelajaran IPS
            Metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Sehubungan dengan pemilihan metode dalam pengajaran IPS, perlu diketahui tujuan pengajaran IPS menurut Edwin Fenton adalah: (1) pemerolehan pengetahuan, (2) pengembangan keterampilan inkuiri, (3) pengembangan sikap-sikap dan nilai. Metode-metode pengajaran yang dapat dipilih oleh guru antara lain:
1.      Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan metode yang umum dipakai. Dengan metode ceramah dapat menyampaikan pengetahuan faktual yang banyak dan generalisasi-generalisasi, namun kesemuanya ini tidak berarti banyak jika tidak ada gambaran kongkret dalam bentuk contoh dan peragaan (model, tiruan, gambar, dll).
2.      Metode Diskusi
Jika metode ceramah dinilai belum cukup, maka setelah selesai berceramah dapat diikuti dengan diskusi antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa. Masalahnya, apakah siswa SD telah memiliki pembendaharaan pengetahuan faktual dan mengerti konsep-konsep atau generalisasi yang cukup untuk turut aktif dalam diskusi. Selain itu, jumlah siswa yang banyak dalam kelas menjadi masalah tersendiri untuk membuat semua siswa ikut bicara dalam diskusi dengan alokasi waktu pelajaran yang terbatas.
3.      Metode Tanya Jawab
Metode ini berlangsung dalam interaksi antara guru dengan siswa setelah guru selesai berceramah. Siswa mengajukan pertanyaan dan guru menjawabnya atau dapat juga dijawab oleh siswa lain, dan sebaliknya guru yang bertanya dan siswa yang menjawab. Beberapa bentuk pertanyaan adalah sebagai berikut:
a.       Pertanyaan mengingat/ hafalan
b.      Pertanyaan deskriptif
c.       Pertanyaan menjelaskan
d.      Pertanyaan sintesis
e.       Pertanyaan memilih
f.       Pertanyaanterbuka

4.      Metode Proyek
Proyek di sini adalah semacam “penelitian” yang dilakukan di luar kelas/sekolah, dilaksanakan secara individu atau kelompok dan membuat laporan dari hasil pengamatan untuk dibawa dan dibicarakan di kelas.

5.      Metode karya wisata
Siswa dibawa mengunjungi objek-objek pemukiman transmigran, situs sejarah, panti sosial, dan sebagainya. Selain rekreasi, siswa juga bisa belajar dari tempat yang mereka kunjungi (mencakup aspek kognitif dan afektif)

6.      Metode Bermain Peran (Role-playing)
Di dalam metode ini melibatkan aspek kognitif (problem solfing) dan afektif (sikap, nilai-nilai pribadi atau orang lain, membandingkan dan mempertentangkan nilai-nilai, mengembangkan empati dan sebagainya).
  1. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi yaitu merupakan format belajar mengajar yang secara sengaja, menunjukan atau memperagakan tindakan, proses atau prosedur yangdilakukan oleh guru atau orang lain kepada seluruh atau sebagian siswa.Metode demonstrasi disertai dengan penjelasan, ilustrasi, dan pertanyaan lisanatau peragaan secara tepat. (dalam Canci, 1986 : 38). Langkah – langkah pelaksanaan metode demonstrasi : a. Persiapan
b. Pelaksanaan c. Tindak lanjut (follow up)

B.     Model-Model Pengajaran IPS
1) Pengertian Model Belajar-Mengajar
Menurut Sarifudin (Wahab, Azis, 1990: 1) yang dimaksud dengan ‘model belajar mengajar’ adalah “kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang terorganisasikan secara sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, yang berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar”. Dengan demikian, model belajar-mengajar khususnya dapat diartikan sebagai satuan cara, yang berisi prosedur, langkah teknis yang harus dilakukan dalam mendekati sasaran proses dan hasil belajar hingga mencapai efektifitasnya, menurut kesesuaian dengan setting waktu, tempat dan subjek ajarnya.
2) Macam-macam Model Mengajar
a. Model-model Pemrosesan
Model-model yang berorientasi pada kemampuan pemrosesan informasi dari siswa dan cara memperbaiki kemampuannya dalam menguasai informasi, merujuk pada cara orang menangani stimulus dari lingkungannya, mengorganisasikan data, menginderai masalah, melahirkan konsep dan pemecahan masalah, dan menggunakan simbol verbal da non-verbal. Model-model yang termasuk dalam rumpun ini antara lain adalah; Model Berpikir (Inquiry Training Model), Inkuiri Ilmiah (Scientific Inquiry), Perolehan Konsep (Concept), Model Advance Organizer (Advance Organizer Model), dan Ingatan (Memory).
b. Model-model Personal
Model-model yang termasuk ke dalam rumpun personal berorientasi pada pengembangan diri individu, model-model ini menekankan proses pembentukan individu dalam mengorganosasikan realitasnya yang unik. Fokus pengembangan diri berkesan menekankan pada pembinaan emosional antara individu dalam hubungan produktif dengan lingkungannya hingga diharapkan menghasilkan hubungan interpersonal yang lebih kaya dan kemampuan pemrosesan yang lebih efektif lagi. Yang termasuk ke dalam rumpun ini adalah; Pengajaran Non-Direktif (Non-directive Teaching), Pelatihan Kesadaran (Awraness Training), Sinektic (Synectics), Sistem Konseptual (Conceptual System) dan Pertemuan Kelas (Classroom Meeting).
c. Model-model Interaksi Sosial
Model-model pembelajaran yang termasuk rumpun Interaksi Sosial, menekankan hubungan antara individu dengan masyarakat dan dengan individu lainnya. Fokus model ini terletak pada proses di mana dengan proses ini realitas dinegosiasi memberikan prioritas pada perbaikan kemampuan individu untuk berhubungan dengan yang lainnya, bergelut dengan proses demokratik dan bekerja secara produktif dalam masyarakat. Termasuk ke dalam rumpun model ini, antara lain : Investigasi Kelompok (Group Investigation), Inkuiri Sosial (Social Inquiry), Metode Laboratorium (Laboratory Method), Yurisprudensial (Yurisprudential), Bermain Peran (Role Playing) dan Simulasi Sosial (Social Simulation).
d.      Model Behavioral
Model-model yang termasuk ke dalam rumpun behavioral berpijak pada landasan teoritis yang sama, yakni teori tingkah laku (Behavioral Theory). Dalam penerapannya, model ini banyak menggunakan istilah lain seperti teori belajar, teori belajar sosial, modifikasi tingkah laku, dan terapi tingkah laku. Ciri pokoknya menekankanpada usaha mengubah tingkah laku teramati ketimbang struktur psikologis yang mendasarinya dan tingkah laku yang tidak teramatinya. Model ini mendasarkan pada prinsip kontrol stimulus dan penguatan (Stimulus Control and Reinforcement). Lebih dari model lainnya model behavioral memiliki keterpakaian yang luas dan teruji keefektifannya pada aneka tujuan seperti pendidikan, pelatihan, tingkah laku interpersonal da pengobatan. Tercakup kedalam model ini, antara lain: Manajemen Kontingensi (Contingency Management), Kontrol Diri (Self Control), Relaksasi (Relaxation), Reduksi Stres (Stress Reducation), Pelatihan Asertif (Assertive Training), Desentisasi (Desensitization) dan Pelatihan Langsung (Direct Training).
Di bawah ini akan dijelaskan beberapa model pembelajaran untuk mengatasi masalah pendidikan IPS.. Masing-masing pendekatan pada pandangan teoritis berkenaan dengan stressingnya, dalam praktisnya dapat terjadi saling berkait antara satu pendekatan dengan pendekatan lain secara bersamaan. Beberapa dari sejumlah pendekatan yang menjadi rujukan, secara parsial terliput dalam kerangka teknis model pilihan berikut, antara lain: Model Inkuiri, VCT, Bermain Peta, ITM (STS), Role Playing, dan Portofolio.
1) Model Inkuiri
a) Makna Pembelajaran Inkuiri
Model inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang memfokuskan kepada pengembangan kemampuan siswa dalam berpikir reflektif kritis, dan kreatif. Pengembangan strategi pembelajaran dengan model inkuiri dipandang sangat sesuai dengan karakteristik materil pendidikan Pengetahuan Sosial yang bertujuan mengembangkan tanggungjawab individu dan kemampuan berpartisipasi aktif baik sebagai anggota masyarakat dan warganegara.
b) Langkah-langkah Inkuiri
Langkah-langkah tersebut antara lain:
ü  orientation
ü  hypothesis
ü  definition
ü   exploration
ü   evidencing
ü   generalization (Joyce dan Weil, 1980).
2) Model Pembelajaran VCT
a) Makna Pembelajaran VCT
VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan pancapaian pendidikan nilai. VCT berfungsi untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai; b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulannya; c) menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya.
b) Langkah Pembelajaran Model VCT
Langkah pembelajarannya antara lain:
a. Teknik evaluasi diri (self evaluation) dan evaluasi kelompok (group evaluation)
b. Teknik Lecturing
c. Teknik menarik dan memberikan percontohan
d. Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan
e. Teknik tanya-jawab
f. Teknik menilai suatu bahan tulisan
g. Teknik mengungkapkan nilai melalui permainan (games).
3) Model Bermain Peta
Keterampilan menggunakan dan menafsirkan peta dan globe merupakan salah satu tujuan penting dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial. Peta dan globe memberikan manfaat, yaitu: a) siswa dapat memperoleh gambaran mengenai bentuk, besar, batas-batas suatu daerah; b) memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai istilah-istilah geografi; c) memahami peta dan globe.
Dalam memahami peta dan globe diperlukan beberapa syarat yaitu : (a) arah, (b) skala,; (c) lambang-lambang,; (d) warna
4) Pendekatan ITM (Ilmu-Teknologi dan Masyarakat)
a) Kebermaknaan Model Pendekatan ITM
Pendekatan ITM (Ilmu, Teknologi, dan Masyarakat) atau juga disebut STS (Science-Technology-Society) muncul menjadi sebuah pilihan jawaban atas kritik terhadap pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang bersifat tradisional (texbook.ITM dikembangkan kemudian sebagai sebuah pendekatan guna mencapai tujuan pembelajaran yang berkaitan langsung dengan lingkungan nyata dengan cara melibatkan peran aktif peserta didik dalam mencari informasi untuk meemcahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan kesehariannya.
b) Langkah Pendekatan ITM
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran pendekatan ITM antara lain:
1. Menekankan pada paham kontruktivisme
2. Peserta didik dituntut untuk belajar dalam memecahkan permasalahan dan dapat menggunakan sumber-sumber setempat untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah.
3. Pola pembelajaran bersifat kooperatif (kerja sama)
4. Peserta didik menggali konsep-konsep melalui proses pembelajaran yang ditempuh dengan cara pengamatan (observasi) terhadap objek-objek yang dipelajarinya.
5. Masalah-masalah aktual sebagai objek kajian, dibahas bersama guru dan peserta didik guna menghindari terjadi kesalahan konsep.
6. Pemilihan tema-tema didasarakan urutan integratif.
7. Tema pengorganisasian pokok dari sejumlah unit ITM adalah isu dan masalah sosial yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
c) Tahapan Metode Pendekatan ITM
 (1) Tahap Eksplorasi
 (2) Tahap Penjelasan dan Solusi
 (3) Tahap Pengambilan Tindakan
 (4) Diskusi dan Penjelasan
 (6) Tahap Evaluasi
 (7) Kegiatan Penutup

5) Model Role Playing
a) Kebermaknaan Penggunaan Model Role Playing
Role Playing adalah salah satu model pembelajaran yang perlu menjadi pengalaman belajar peserta didik, terutama dalam konteks pembelajaran Pengetahuan Sosial dan Kewarganegaraan didalamnya. Role playing sendiri tidak jarang menjadi pelengkap kegiatan pembelajaran yang dikembangkan dengan stressing model pendekatan lainnya, seperti inkuiri, ITM, Portofolio, dan lainnya.
b) Langkah-langkah Role Playing
Adapun langkah-langkahnya, Djahiri (1978: 109) mengangkat urutan teknis yang dikembangkan Shaftel yang terdiri dari 9 langkah dalam tabel berikut.
No.
Urutan Langkah
Kegiatan dan Pelakunya
1.
Penjelasan umum
1.1. Mencari atau mengemukakan permasalahan (oleh guru atau bersama siswa).
1.2. Memperjelas masalah/ topik tersebut (guru).
1.3. Mencari bahan-bahan, keterangan atau penjelasan lebih lanjut, dengan menunjukan sumbernya (guru & siswa).
1.4. Menjelaskan tujuan, makna dari role playing.
2.
Memilih para pelaku
2.1. Menganalisis peran yang harus dimainkan (guru bersama siswa).
2.2. Memilih para pelakunya (dibantu guru).
3.
Menentukan Observer
3.1. Menentukan observer dan menjelaskan tugas dan peranannya (guru & siswa).
4.
Menentukan jalan cerita
4.1. gariskan jalan ceritanya.
4.2. tegaskan peran-peran yang ada didalamnya.
4.3. berikut gambaran situasi keadaan cerita tersebut (guru + siswa).
5.
Pelaksanaan (bermain)
5.1. Mulai melakonkan permainan tersebut
5.2. Menjaga agar setiap peran berjalan.
5.3. Jagalah agar babakan-babakan terlihat jelas.
No.
Urutan Langkah
Kegiatan dan Pelakunya
6.
Diskusi dan permainan
6.1. Telaah setiap peran, posisi, dan permainan.
6.2. diskusikan hal tersebut berikut saran perbaikannya.
6.3. Siapkan permainan ulangan.
7.
Permainan ulang dan diskusi serta penelaahan
7.1. Seperti sub 5 dan sub 6
8.
Mempertukarkan pikiran, pengalaman dan membuat kesimpulan
8.1. Setiap pelaku mengemukakan pengalaman, perasaan dan pendapatnya.
8.2. Observer mengemukakan penilaian pendapatnya.
8.3. Siswa dan guru membuat kesimpulan dan merangkainya dengan topik / konsep yang sedang dipelajarinya.
6) Model Portofolio
a) Makna Pembelajaran Portofolio
Sapriya (Winataputra, 2002: 1.16) menegaskan bahwa: “portofolio merupakan karya terpilih kelas/siswa secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif membuat kebijakan publik untuk membahas pemecahan terhadap suatu masalah kemasyarakatan”. Makna pembelajaran berbasis portofolio dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial adalah memperkenalkan kepada peserta didik dan membelajarkan mereka “pada metode dan langkah-langkah yang digunakan dalam proses politik” kewarganegaraan/kemasyarakatan.
b) Langkah-langkah Penbelajaran Portofolio
Secara teknis pendekatan portofolio dimulai dengan membagi peserta didik dalam kelas ke dalam beberapa kelompok,
(1)   Kelompok portofolio-satu; Menjelaskan masalah,
(2)   Kelompok portofolio-dua; Menilai kebijakan alternatif
(3)   Kelompok portofolio-tiga; Membuat satu kebijakan publik yang didukung oleh kelas
(4)   Kelompok portofolio-empat; Membuat satu rencana tindakan agar pemerintah (setempat) dalam masyarakat mau menerima kebijakan kelas

C.    Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran IPS
Tujuan, materi pelajaran, kegiatan belajar, strategi pembelajaran (bahkan sampai pada evaluasi) harus diorganisasikan sedemikian rupa untuk menggalakkan pembelajaran yang efektif. Untuk itu perlu perencanaan dan pelaksanaannya. Setiap langkah yang akan dilakukan oleh guru mengenai apa yang akan diajarkan ditentukan oleh tujuan yang dirumuskan sebelumnya.
Oleh sebab itu, perumusan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengelola pembelajran IPS. Tujuan yang akan dicapai selama proses belajar mengajar berlangsung, dan apakah tujuan itu dapat tercapai atau tidak setelah proses pembelajaran selesai, hendaknya ditulis dan dirumuskan lebih dahulu oleh guru dalam Satpel (satuan pelajaran). Satpel yang baik memuat rumusan tujuan-tujuan itu yang menuntun guru dan siswa kearah proses pembelajaran yang tampak jelas dan terarah.
Sehubungan dengan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran ini ada tiga tujuan yang harus diperhatikan:
a.       Tujuan jangka pendek, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksaan beberapa jam pelajaran atau TIK (Tujuan Instruksional Khusus).
b.      Tujuan jangka menengah, yaitu tujuan yang ingin dicapai selama pelaksanaan satu unit pelajaran.
c.       Tujuan jangka panjang, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam masa satu semester atau satu tahun ajaran.
Umumnya guru hanya memperhatikan tujuan jangka pendek saja, sedangkan kedua tujuan lain kurang mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Tujuan itu sebenarnya menjelaskan perubahan-perubahan yang dikehendaki dari siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Guru diminta untuk menuliskan dan merumuskan tujuan-tujuan itu secara jelas, lengkap, spesifik dan serealis mungkin.Sehingga guru benar-benar memikirkan perubahan apa yang diharapkan dari siswa dalam meningkatkan aspek kognitif (pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi) dan aspek afektif (mendengar, menjawab, menilai).
Dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran ini beberapa hal di bawah ini perlu mendapat perhatian.
1)      Materi pelajaran. Guru hendaknya menguasai bidang studi atau mata pelajaran IPS. Materi itu dalam Satpel disebar dalam Pokok Bahasan atau Sub-Pokok Bahasan kemudian dirumuskan dalam TIU (Tujuan Instruksional Umum). Setelah itu rincian meteri yang akan disampaikan.
2)      Metode. Dinyatakan metode apa saja yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
3)      Alat, sumber belajar dan media perlu diketahui dan disiapkan.
4)      Pemanfaatan lingkungan sekolah. Sehubungan dengan butir 3 di atas, lingkungan sekolah perlu dimanfaatkan jika relevan dengan proses pembelajaran seperti kebun dan tamanan di sekolah, bangunan sekolah, jalan raya di sekitar sekolah, warung sekolah dan sebagainya.
5)      Pemanfaatan ruang kelas. Sehubungan dengan hal-hak di atas juaga perlu diperhatikan penempatan papan tulis, meja guru, bangku-bangku, lemari, penggunaan dinding-dinding kelas untuk display hasil kerja siswa. Begitu juga penggunaan sudut dan serambi kelas untuk pameran hasil karya siswa, hasil penelitian atau hasil karya guru.
6)      Pemanfaatan lingkungan.Penggunaan sumber yang tersedia dari lingkungan fisik sekolah atau masyarakat di sekitar desa (desa pertanian, atau desa nelayan), flora fauna, batu-batuan dan alat transportasi desa dapat menjadi alat peraga pelajaran IPS.
7)      Pemanfaatan waktu. Prinsip “semakin banyak waktu semakin banyak yang bisa dipelajari” perlu dipegang. Alokasi waktu perlu diatur sebaik-baiknya dalam jadwal kegiatan.
8)      Pemanfaatan perpustakaan dan laboratorium. Dalam rencana pelajaran perlu dinyatakan bila mana perpustakaan dan laboratorium IPS itu digunakan.


      Demikian pokok- pokok yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran ini agar tujuan-tujuan pendidikan IPS dapat tercapai dengan efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Suradisastra Djodjo,dkk , Pendidikan IPS 3, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993.
http://juyaki.blogspot.com/2010/03/makalah-ips.html diakses pada 16 maret 2013 14:27
http://meilanikasim.wordpress.com diakses pada 13 April 2013 09:10