Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Wednesday, August 5, 2015

Pengertian Menulis dan Menulis Deskripsi

Menulis adalah kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara tertulis kepada pihak lain. Aktivitas menulis melibatkan unsur penulis sebagai penyampai pesan atau isi tulisan, saluran atau media tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan. Sebagai suatu keterampilan berbahasa, menulis merupakan kegiatan yang kompleks karena penulis dituntut untuk dapat menyusun dan mengorganisasikan isi tulisannya serta menuangkannya dalam ragam bahasa tulis (Suparno, 2011:1.29).

Pada dasarnya menulis bukan hanya melahirkan pikiran atau perasaan saja, melainkan juga merupakan pengungkapan ide, ilmu pengetahuan, dan pengalaman hidup seseorang dalam bahasa tulis. Sebagai proses, menulis merupakan serangkaian kegiatan yang terjadi dan melibatkan beberapa tahap, yaitu pramenulis, penulisan, dan pascapenulisan. Selain sebagai proses, menulis juga merupakan kegiatan yang kompleks karena melibatkan cara berpikir yang teratur dan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan teknik penulisan (Saddhono, 2014:151-153). 

Sedangkan Susanto (2013:247-248) menyatakan menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-pola bahasa dalam penyampaiannya secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan. Menulis adalah satu cara mengoperasikan otak secara totalitas yang juga menyertakan raga, jari, dan tangan. Karena menulis merupakan proses berpikir, maka menulis bersifat sentral dalam proses belajar. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, kemampuan menulis memiliki arti yang sangat penting, yaitu: (1) menulis dalam arti mengekspresikan atau mengemukakan pikiran, perasaan, dalam bahasa tulis; dan (2) menulis dalam arti melahirkan bunyi-bunyi bahasa, ucapan, dalam bentuk tulisan untuk menyampaikan pesan berupa pikiran dan perasaan.

Dalman (2014:3-4) menyatakan bahwa menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis. Menulis juga dapat dikatakan sebagai kegiatan merangkai huruf menjadi kata atau kalimat untuk disampaikan kepada orang lain, sehingga orang lain dapat memahaminya.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan pola-pola bahasa yang produktif dan ekspresif secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan yang ingin disampaikan.

Thursday, September 5, 2013

Langkah-langkah penulisan karya ilmiah

Karya ilmiah terikat pada penggunaan bahasa ragam ilmiah dan teknis penulisan serta prosedur penulisan yang standar dan lazim. Secara umum ada lima langkah penulisan karya ilmiah, yaitu : pengembangan gagasan, perencanaan naskah, pengembangan paragraf, penulisan draf, dan finalisasi.
1.      Pengembangan gagasan
Gagasan sebuah karya ilmiah berangkat dari penentuan tema, topik, dan permasalahan yang menjadi gagasan utama sebuah karya ilmiah.pengertian tema secara khusus dalam tulis-menulis dapat dilihat dari dua sudut, yakni dari sudut karangan yang telah selesai dan dari sudut proses penyusunan karangan. Dari sudut pertama tema adalah amanat utama yang disampaikan penulis melalui tulisannya. Dari segi yang kedua, tema adalah perumusan topik yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui tulisan / karangan. Dalam pemilihan suatu topik, penulis harus memperhatikan tiga kriteria berikut ini :
a.       Penulis harus mampu menangani topik yang menjadi pilihannya.
b.      Penulis mempunyai keinginan yang cukup besar untuk mengerjakan.
c.       Penulis mempunyai sarana, prasarana, dan waktu yang cukup untuk mengembangkan topik pilihanya.
Setiap topik atau masalah yang dibahas dalam penelitian harus layak. Dalam hal ini, kelayakan suatu masalah penelitian berkaitan dengan banyak faktor. Faktor itu antara lain sebagai berikut :
a.       Kemanfaatan hasil, sejauh mana penelitian terhadap masalah tersebut akan memberikan sumbangan kepada khasanah teori ilmu pengetahuan atau kepada pemecahan masalah-masalah praktis.
b.      Kriteria pengetahuan yang dipermasalahkan, yaitu mempunyai khasanah keilmuan yang dapat dipakai untuk pengajuan hipotesis dan mempunyai kemungkinan mendapatkan sejumlah fakta empirik yang diperlukan guna pengujian hipotesis.
c.       Persyaratan dari segi peneliti, sejauh mana kemampuan peneliti untuk melakukan penelitian. Hal ini setidaknya menyangkut lima faktor, yaitu: biaya, waktu, alat dan bahan, bekal kemampuan teoritis peneliti, dan penguasaan peneliti terhadap metode penelitian yang akan digunakan.

Rumusan tema yang lebih luas dapat disusun dalam sebuah paragraf atau beberapa paragraf. Tema yang dirumuskan secara luas dalam bentuk paragraf atau beberapa paragraf biasa disebut sebagai ikhtisar, ringkasan, sari, atau abstrak.
Tema yang baik disusun dengan mengikuti kaidah kejelasan, kesatuan, perkembangan, keaslian, dan kecocokan dengan judul. Kejelasan tema dapat dilihat dari subordinasi atau perincian-perinciannya. Bila ada satu atau lebih perincian yang tidak memiliki hubungan yang jelas dengan tema dapat menjadi pertanda kaburnya sebuah tema. Perincian sebuah tema dapat berupa topik-topik, kalimat-kalimat utama, atau kalimat-kalimat penjelas.
Perkembangan merupakan perincian sebuah tema yang dilakukan secara logis dan sistematis. Ada hubungan yang erat antara perkembangan, kejelasan, dan kesatuan. Ketidakjelasan akan menimbulkan efek negatif pada kesatuan dan perkembangan, kesatuan yang kurang baik dapat menimbulkan ketidakjelasan tema, dan perkembangan tema yang kurang baik akan merusak tema dan mengaburkan topik dan tujuan.
Tema harus pula memenuhi syarat keaslian. Keaslian dapat diukur dari sudut pilihan pokok persoalan, pandangan, pendekatan, rangkaian kalimat, dan pilihan kata.

2.      Perencanaan penulisan naskah
a.       Perencanaan isi karya ilmiah
Prinsip utama yang harus diperhatikan dalam perencanaan isi karya ilmiah adalah pembuatan kerangka karangan. Kerangka pada dasarnya merupakan pokok-pokok karangan yang nantinya akan dijabarkan menjadi karangan yang sebenarnya.
b.      Perencanaan format
Perencanaan format dan teknis penulisan karya ilmiah direalisasikan dalam penentuan format dan teknik penulisan yang akan digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Format khusus karya ilmiah termasuk aturan teknis penulisan disebut sebagai gaya selingkung. Format umum merupakan realisasi dari konvensi format yang berlaku secara umumyang harus dilakukan oleh semua penulis karya ilmiah. Format umum karya ilmiah akan tampak pada sistematika karya ilmiah yang tampak pada komponen-komponen karya ilmiah dan pola penataannya. Teknik penulisan yang mencakup teknik perujukan, teknik penampilan teks, dan teknik pengetikan yang mencakup pengaturan spasi dan tata letak.
c.       Perencanaan bahasa
Perencanan bahasa penulisan karya ilmiah diwujudkan dalam pemilihan ragam bahasa ilmiah yang akan digunakan dalam naskah karya ilmiah.

3.      Pengembangan paragraf
Dalam karya ilmiah, isi paragraf tersusun dari gagasan dasar dan sejumlah gagasan pengembang. Tidak ada batasan pasti tentang jumlah gagasan pengembang atau pendukung dalam paragraf. Secara kualitatif dapat dinyatakan bahwa gagasan pengembang dan pendukung itu memadai jika telah terwujud kejelasan informasi yang dituangkan dalam paragraf. Pengembangan sebuah paragraf harus memperhatikan hal-hal berikut ini :
a.       Pilihan kata dalam setiap kalimat dalam paragraf.
b.      Kalimat-kalimat dalam paragraf harus saling mendukung (tidak ada kalimat sumbang, yakni yang tidak mendukung ide pokok dalam paragraf).
c.       Setiap paragraf mengandung satu ide pokok yang dikembangkan dengan beberapa ide penjelas.
d.      Bahasa yang digunakan mengikuti kaidah yang berlaku.
e.       Ejaan dan tanda baca harus diperhatikan.
f.       Ada keterpaduan antara paragraf satu dengan paragraf berikutnya.

4.      Penulisan Draf
Penulisan draf merupakan aktivitas yang dimulai dengan menata butir-butir gagasan secara hierarkhis dan sistematis. Dengan penataan itu, dapat ditempatkan hubungan antarkomponen yang setara dan bertingkat dalam sebuah paparan. Keteraturan yang berlaku dalam paparan ilmiah tampak pada pola penalaran yang diterapkan, keakuratan komponen dalam penalaran, kelengkapan komponen gagasan, dan kepaduan hubungan antarkomponen gagasan.
Sebagaimana disarankan oleh Brown (1978:144), penulisan draf awal sebuah tulisan dilakukan dengan langkah-langkah berikut :
a.       Membaca semua kartu catatan
b.      Mempertimbangkan semua materi yang sudah dipersiapkan
c.       Mempersiapkan kerangka tulisan
d.      Mengelompokkan bahan-bahan dan catatan-catatan bahasa tulisan berdasarkan topik dan penempatan kelompok-kelompok bahasa tulisan itu dalam tulisan, dan menuliskan draf kasar tulisan

5.      Finalisasi
Proses yang dilakukan pada tahap finalisasi adalah revisi naskah. Sebelum revisi dilakukan penulis melakukan pemeriksaan ulang terhadap draf karya ilmiah dari segi isi, bahasa, ejaan, tanda baca, dan teknik penulisan. Dalam merevisi draf, masukan dari teman sejawat sangat diperlukan. Sebuah draf karya ilmiah hendaknya dibaca oleh teman yang profesional untuk memberikan masukan. Finalisasi yang sangat lazim dilakukan adlah penyuntingan naskah. Penyuntingan dilakukan untuk memperkecil kesalahan dan kelemahan pada draf.
Hal-hal yang dilakukan pada tahap revisi dan penyuntingan antara lain :
a.       Memperbaiki ide-ide dalam karangan, berfokus pada penambahan, pengurangan, penghilangan, penataan isi sesuai dengan kebutuhan pembaca.
b.      Membaca ulang seluruh draf dengan memperhatikan reaksi, komentar atau masukan.
c.       Memperbaiki karangan pada aspek kebahasaan dan kesalahan mekanik yang lain. Aspek mekanik antara lain : huruf kapital, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, istilah, kosa kata, format karangan.
d.      Menghindari penyajian yang berulang-ulang atau tumpang tindih.
Di samping itu penyajian juga merupakan tahapan penyuntingan. Teknik penyajian karya ilmiah harus memperhatikan:
-          Segi kerapian dan kebersihan.
-          Tata letak (layout) unsur-unsur dalam format karya ilmiah, misalnya halaman muka (cover), halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, daftar pustaka dan lain-lain.
-          Standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, misalnya standar penulisan kutipan, catatan kaki (foot note), daftar pustaka & penggunaan Bahasa Indonesia sesuai EYD.


PENUTUP
A.    SIMPULAN
Secara umum ada lima langkah penulisan karya ilmiah, yaitu : pengembangan gagasan, perencanaan naskah, pengembangan paragraf, penulisan draf, dan finalisasi.
Gagasan sebuah karya ilmiah berangkat dari penentuan tema, topik, dan permasalahan yang menjadi gagasan utama sebuah karya ilmiah. Dalam pemilihan masalah / topik mempertimbangkan beberapa hal : harus topik yang paling menarik perhatian, terpusat pada segi lingkup yang sempit dan terbatas, memiliki data dan fakta yang obyektif, harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya meskipun serba sedikit, dan harus memiliki sumber acuan / bahan kepustakaan yang dijadikan referensi.
Perencanaan naskah dalam karya ilmiah dapat dilakukan dari segi perencanaan isi, perencanaan format, teknik penulisan dan segi perencanaan bahasa. Perencanaan bahasa tidak mencakup ejaan dan tanda baca karena segi ini sudah diformalkan dan menjadi ketentuan umum yang tidak memungkinkan adanya kreativitas.
Tahap Penulisan merupakan perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai terdiri dari tahap prapenulisan, tahap penulisan draft, tahap Revisi dan penyuntingan (finalisasi)

B.     SARAN
Dalam penulisan karya ilmiah harus memperhatikan tahap persiapan serta langkah-langkah dalam penyusunannya. Susunan dari karya ilmiah haruslah menyajikan permasalahan yang menarik, penulisan dan pengembangan paragraf yang sistematis dengan prosedur yang konsisten, serta memperhatikan penulisan draf dan tahap akhir dari penulisan berupa revisi dan penyuntingan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan memperbanyak membaca referensi tentang kaidah penulisan karya ilmiah yang baik dan benar. Dengan adanya penjabaran tentang langkah-langkah penulisan karya ilmiah ini, diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam menyusun karya ilmiah dengan baik.

Daftar Pustaka
Mukh Doyin dan Wagiran, Bahasa Indonesia Pengantar Penulisan Karya Ilmiah, Pusat Pengembangan MKU dan MKDK LP3 Universitas Negeri Semarang, 2011

Tuesday, April 17, 2012

Masa Perkembangan Keterampilan Anak, Materi Belajar Menari dan Konsep-Konsep Koreografi.

Masa perkembangan kemampuan anak dalam belajar menari: Anak didik sebagai sasaran utama dalam proses pelaksanaan pendidikan drama tari, unsur yang ada pada siswa haruslah dipergunakan sebagai bahan yang mendasari kegiatan pendidikan drama tari. Untuk memahami karakteristik gerak siswa SD, kita harus memahami tingkat perkembangan siswa SD menurut tingkat usianya.
Secara umum sifat siswa SD antara lain :
1. Mempunyai sifat patuh terhadap peraturan
2. Kecenderungan untuk memuji diri sendiri
3. Suka membandingkan diri dengan orang lain
4. Jika tidak dapat menyelesaikan tugas maka tugas tersebut dianggap tidak penting
5. Realistis dan rasa ingin tahu yang besar
6. Kecenderungan melakukan kegiatan yang praktis dan nyata.

Ciri / karakteristik gerak anak :
1. Menirukan Apabila ditunjukkan kepada anak didik suatu action yang dapat diamati (observable) maka ia akan membuat tiruan itu pada sampai tingkat otot-ototnya dan dituntun oleh dorongan kata hati untuk menirukannya.
2. Manipulasi Pada tingkat ini anak menampilkan suatu action seperti diajarkan dan tidak hanya seperti yang diamati. Anak mulai dapat membedakan antara satu set action dengan yang lain, menjadi mampu memilih action yang diperlukan dan mulai memiliki ketrampilan dalam manipulasi implementasi.
3. Kesaksamaan atau precision Kemampuan anak didik dalam penampilan yang telah sampai pada tingkat perbaikan yang lebih tinggi dan memproduksi suatu kegiatan tertentu.
 4. Articulation Anak didik telah dapat mengkoordinasi serentetan action dengan menetapkan urutan atau sikuen tepat diantara action yang berbeda-beda.
 5. Naturalisasi Tingkat terakhir dari kemampuan psikomotorik adalah apabila anak telah mengalami satu action atau sejumlah action yang urut ketrampilan penampilan ini telah sampai pada kemampuan yang paling tinggi dan action tersebut ditampilkan dengan pengeluaran energy yang minimum.

     ( sunaryo : 1984) Dibawah ini tingkat perkembangan siswa SD menurut tingkat usianya:
1. Usia bermain Pada usia 4 – 6 tahun, anak masuk dalam kelompok bermain, maka kemampuan dalam menyerap materi tari juga masih juga bersifat bermain-main, belum dapat berlatih secara serius dan bersungguh-sungguh. Maka syarat materinya harus sederhana, praktis dan dinamis. Sederhana maksudnya adalah materi tari diambil dari gerak-gerak yang biasa dilakukan anak-anak sehari-hari, seperti bertepuk tangan, melonjak-lonjak, merangkak, berjalan, berlari, melambaikan tangan, mengangguk-angguk, berguling-guling dan sebagainya. Praktis maksudnya adalah materi tari dipilih dari gerak-gerak yang mudah (tidak rumit, tidak sulit), murah (tidak perlu mengeluarkan biaya kursus/latihan tersendiri), aman (tidak beresiko bahaya), umum (bisa dilakukan oleh siapa saja, tua, muda, laki-laki, perempuan), fleksibel (pantas dilakukan dimana saja, kapan saja, sopan/tidak mengandung resiko etika). Dinamis, artinya gerak-gerak yang disusun harus bervariasi, tidak membosankan, karena pada usia bermain anak belum bisa peka terhadap irama dengan ritme-ritme yang sulit, iringan tarinya biasanya monoton, maka geraknya dipilih yang berubah-ubah (meskipun berangkat dari pengulangan tetapi ditata dengan penambahan atau perubahan arah, sehingga tidak kentara pengulangannya).
2. Usia Transisi Usia transisi dalam belajar menari pada umumnya jatuh pada saat anak berusia 7 hingga 9 tahun. Pada saat ini anak tidak lagi main-main dalam belajar menari. Mereka sudah mulai bertanggungjawab dan bisa lebih berdisiplin atau tertib dalam berlatih atau belajar. Kemampuan anak pada usia inipun sudah setingkat di atas anak usia bermain, sudah dapat menghafal dan sudah mulai peka terhadap musik iringan tari. Oleh karena itu syarat materi tari untuk anak usia transisi ini sudah boleh mengabaikan kesederhanaan, tetapi syarat praktis dan dinamis masih harus diperhatikan, dan muncul satu syarat lagi yaitu ritmis. Artinya materi tari sudah dituntut adanya permainan ritme atau tehnik ritmika tertentu, baik ritmik gerak maupun ritme irama musik pengiring tarinya.
 3. Usia belajar Anak berusia 10 hingga 12 tahun masuk ke dalam kelompok usia belajar. Pada kelompok ini anak-anak sudah mampu menghafal, sudah peka terhadap iringan tari, juga sudah dapat membentuk diri/tubuhnya dengan sadar (dapat merasakan dan menjiwai) tentang keindahan gerak yang dibawakannya. Dengan kemampuan mereka ini, syarat materi tarinya haruslah ditambahkan syarat estetis, yaitu syarat materi tari dengan tehnik keindahannya. Syarat ini ditambahkan setelah syarat praktis, dinamis, dan ritmis telah terpenuhi. Dengan ditambahkannya syarat estetis pada materi tari bagi kelompok usia belajar ini maka kebutuhan akan ekspresi anak dapat terpenuhi karena dilayani dalam latihan yang merangsang pertumbuhan kemampuan ekspresinya. Untuk selanjutnya, hanya akan dibahas pembelajaran menari pada usia bermain saja. Pembelajaran menari pada usia bermain Mengingat anak usia 4-6 tahun temperamennya masih polos dan apa adanya, guru mempersiapkan banyak hal untuk dapat berhasil dalam proses pembelajaran dengan memuaskan.

1. Persiapan mental guru.
a. Yakin mampu: artinya guru harus yakin dan percaya diri bahwa guru pasti bisa mempengaruhi anak-anak belajar menari mengikuti semua ajakan guru dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh guru.
b. Kreatif: artinya guru dapat/ mampu menciptakan sendiri gerakan-gerakan sederhana tetapi praktis dan dinamis untuk diperagakan oleh anak-anak. Tidak hanya menjiplak karya tari orang lain.
 c. Inovatif: artinya guru dapat mencari sesuatu (ide, gagasan, model, gaya) yang baru, yang belum pernah dimunculkan orang sebelumnya. Hal-hal semacam ini seringkali berhasil minat anak karena anehnya, lucunya atau ingin ikut merasakan pengalaman baru itu.
d. Variatif: artinya guru mampu mengeksplorasi gerak-gerak musik iringan tari, atau gaya-gaya yang lain lagi asalkan kelihatan bermacam-macam, banyak ragam (beraneka), ini dapat mengatasi kebosanan anak. Guru dapat membuat variasi dengan arah hadap atau level yang berbeda misalnya, sehingga terjadi pengalaman yang berlainan.
e. Motivatif: artinya guru harus dapat mendorong semangat anak agar mau berpartisipasi secara suka rela, atas kemauannya sendiri, tidak terpaksa, tidak karena pertimbangan lain kecuali keinginan untuk ikut serta dalam kegiatan menari dan bergembira bersama teman-temannya yang lain. Ini juga merangsang ekspresi anak.
f. Simpatik: guru dapat menarik perhatian anak, baik dari peringai guru, sikap, cara berbusana (dengan bau/aroma mewangi/harum/segar tubuh guru), atau hal-hal kecil lainnya yang menarik perhatian anak, sehingga guru dapat leluasa mengajak/mempengaruhi anak untuk berbuat sesuatu sesuai dengan tujuan belajar menari, terutama dalam hal merangsang kebersamaan, kesetiakawanan dan kedisiplinan anak.
g. Improvisatif: artinya guru dapat mengangkat kejadian-kejadian atau perilaku-perilaku anak yang muncul tiba-tiba atau sewaktu-waktu sebagai bahan atau sesuatu yang bisa dijadikan materi atau pengalaman yang dapat dipelajari. Diangkat, dibahas, didiskusikan, dicari jalan penyelesaiannya dan diperoleh suatu pengalaman lagi.

2. Persiapan fisik pembelajaran Pembelajaran tari meliputi pembelajaran jasmani dan pembelajaran seni. Sangat berbeda dengan bidang studi yang lain. Oleh karena itu, guru perlu mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Materi Materi tari harus dipilih sesuai dengan syarat materi untuk usia bermain (sederhana, praktis dan dinamis), dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Media Guru juga dapat mempersiapkan media belajar yang dipergunakan untuk menarik perhatian anak ke arah/sasaran tema yang diharapkan oleh tujuan belajar.
c. Metode Artinya guru perlu memakai metode yang beraneka secara serasi, proporsional dan dapat mendukung proses belajar yang menyenangkan.
d. Fasilitas Guru harus bisa memfasilitasi ataupun menjadi fasilitator bagi pembelajaran tari, bukan sebaliknya guru malah menuntut sarana/prasarana yang tidak mungkin dikabulkan oleh pihak sekolah.
e. Organisasi pembelajaran Untuk mengatasi kemungkinan tempat, waktu, dan tenaga yang terbatas, dengan jumlah anak yang cukup besar, maka guru perlu mengorganisasi pembelajaran menari.
f. Fleksibel Sebaiknya guru dapat mengelola kelas menari secara fleksibel, yang dimaksud adalah bahwa guru tidak perlu terlalu mencermati pelaksanaan kegiatan belajar secara mutlak pada satuan acara atau skenario pembelajaran hingga tampak kaku, tetapi fleksibel saja, apabila ada kemungkinan munculnya improvisasi belajar, atau kondisi-kondisi mendadak yang lain, maka acara dapat disesuaikan sebagaimana mestinya, asalkan anak-anak tidak merasa terpaksa atau terkejut.

3. Prinsip-prinsip pembelajaran tari anak
a. Atur/kendalikan emosi Guru harus benar-benar mengendalikan emosinya sendiri, sekaligus emosi atas sebab akibat perilaku anak. Hal ini untuk mengatasi ketakutan anak.
b. Ajakan/informasi jelas Informasi atau ajakan yang diberikan oleh guru harus jelas, kalimat harus jelas, bahasa yang komunikatif, tatap mata yang terarah, jelas dan rata (semua anak merasa ditatap dengan akrab, tidak ada yang terlewati yang membuat anak merasa tidak diperhatikan).
c. Demonstrasi menarik Guru harus bisa demonstrasi memperagakan materi belajar menari saat proses pembelajaran berlangsung secara total dan ekspresif, tidak terhambat oleh perasaan tertentu.
d. Penguatan Memberikan pujian penyemangat secara adil dan progresif untuk memotivasi anak.

4. Beberapa kemungkinan kondisi anak dalam belajar menari
Pemilihan materi belajar menari berdasarkan 3 kelompok tujuan.
1. Tujuan Pembinaan Harian Artinya adalah pembelajaran tari dilaksanakan untuk kegiatan harian (per-pertemuan). Kegiatan ini dilaksanakan karena anak-anak perlu rutinitas yang menggembirakan, membuat mereka bersemangat, bebas berskspresi. Apabila kegiatan ini dilaksanakan sebaik-baiknya maka anak akan berperilaku secara total yang memungkinkan terjadinya dampak posistif pada anak, seperti badan menjadi segar, berkeringat dan sehat, atau tersenyum-senyum puas karena kebutuhan jiwanya terpenuhi. Pembelajaran tari yang dilaksanakan dengan tujuan pembinaan harian, meliputi latihan-latihan sebagai berikut: a. Latihan Motorik Corbin dalam buku Model Pengembangan Ketrampilan Motorik Anak Usia Dini mendefinisikan pengertian perkembangan motorik sebagai perubahan kemampuan gerak dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan kemampuan gerak (Sumantri, 2005: 48). Dalam mengembangkan kemampuan gerak anak, anak dilatih untuk mengenali anatomi tubuhnya. Misalkan, melatih kakinya untuk berjalan maju atau mundur, mengenal sebelah kiri dan kanan tubuhnya, bergerak memutar dan sebagainya.
b. Latihan Imajinasi Maksudnya adalah anak-anak diajak berimajinasi atau membayangkan berbagai perilaku binatang, berbagai permainan, suasana alam dan sebagainya. Ini berarti bahwa kegiatan menari dapat merangsang juga daya pikir dan fantasi anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sal Murgiyanto bahwa tari harus mampu merangsang pengembangan imajinasi dan memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk menemukan sesuatu (Murgiyanto, 1993).
c. Latihan Mental Dalam pembelajaran tari untuk tujuan pembinaan harian ini anak-anak dilatih mental dan spiritualnya. Bagaimana mereka belajar tertib melakukan urutan gerakan yang sudah disepakati, belajar bergerak bersama-sama temannya, belajar menari dengan berekspresi (tersenyum, bersedih, dsb), dan semuanya dilakukan dengan sadar dan senang hati. Dari latihan-latihan dapat kita lihat adanya pembelajaran sikap bertanggungjawab, disiplin, dan rasa seni yang terpancar dari jiwa anak-anak.
d. Pemupukan Minat dan Bakat (Kemampuan) Dengan adanya latihan tari ini, kita dapat mengukur tingkat respon anak, sensifitas anak hingga minat anak. Biasanya dapat kita lihat pada raut muka, tatap mata dan perilaku anak saat latihan ini berlangsung. Akan tetapi penelitian ini akan memerlukan waktu tertentu karena ekspresi anak bersifat temporal, tak menentu, tergantung pada kondisi emosionalnya.

2. Tujuan pentas Insidental Maksudnya adalah pembelajaran tari dilaksanakan untuk mempersiapkan anak-anak dalam mengikuti dan memeriahkan acara tertentu. Pada tujuan ini, materi pembelajaran sebaiknya menyesuaikan pada tema acara insidentalnya. Pemilihan anak adalah berdasarkan minat dan bukan berdasarkan pada kualitas koreografinya. Untuk durasi pertunjukan disesuaikan dengan kebutuhan acara pertunjukan, tetapi perlu diingat akan kualitas pertunjukan itu sendiri (membosankan atau tidak). Sehingga harus diatur sedemikian rupa agar pertunjukan tersebut tetap menarik atau berkualitas. Rias dan busana disesuaikan dengan tema pertunjukan dengan tidak mengesampingkan kondisi keuangan yang ada. Akan lebih baik jika guru mendayagunakan seoptimal mungkin benda-benda inventaris sekolah. Yang perlu dicermati dalam persiapan pentas ini adalah tentang pendanaan. Guru perlu meninjau dengan teliti kondisi, situasi dan kebutuhan acara sehingga pementasan akan sesuai dengan tujuan kegiatan atau acara dan tentu saja tidak menjadi beban dari sekolah.

3. Tujuan Kompetisi/Evaluasi Maksudnya adalah pemilihan materi pembelajaran tari dilakukan dengan pertimbangan nilai-nilai tertentu mengingat adanya persaingan dari kelompok-kelompok yang lain. Kualitas kelompok hanya akan terbangun oleh adanya dukungan anak-anak yang aktif, kuat, dalam kualitas gerak, pribadinya tegar, disiplin, berpikir cepat, berkemampuan fisik maupun psikis (bakat), serta berpotensi ekspresif maupun improvisatif. Materi yang dipilih adalah materi yang memungkinkan adanya semua dukungan agar tidak terjadi tekanan pada anak.
 Ada tiga bentuk penyajian lomba-lomba kesenian jasmani yang perlu diketahui perbedaannya:
1. Lomba tari Unsur penilaiannya diutamakan pada gerak dan koreografinya.
2. Lomba Senam Irama Unsur penilaiannya adalah unsur olahraga dan seni, dan mencakup tiga bagian: pemanasan, inti dan pendinginan. Gerak utamanya adalah gerakan olah raga (melatih kekuatan otot-otot tubuh) dengan diberi sedikit sentuhan estetika.
3. Lomba Gerak dan Lagu Unsur penilaiannya adalah pada gerak dan lagu yang dilakukan oleh anak. Wujud kegiatannya adalah menyanyi sambil menari. Gerak biasanya bukan merupakan presentasi dari lagu, sehingga gerak tidak dibuat dengan beban estetis yang terlalu tinggi yang akan mengganggu kualitas suara anak tersebut.

Konsep-konsep Koreografi Koreografi disebut juga sebagai komposisi tari merupakan seni membuat/merancang struktur ataupun alur sehingga menjadi suatu pola gerakan-gerakan. Istilah komposisi tari bisa juga berarti navigasi atau koneksi atas struktur pergerakan. Hasil atas suatu pola gerakan terstruktur itu disebut pula sebagai koreografi. Orang yang merancang koreografi disebut sebagai koreografer. Istilah koreografi pertama dikenal dalam kamus bahasa Inggris Amerika seputar tahun 1950-an. Sebelum istilah ini muncul, penamaan yang umum digunakan di film-film menyebutkannya sebagai "Ensembel pementasan oleh", "Tarian", "Pengarah Tari", "Pementasan tarian oleh", "Musical Numbers Directed by", atau "Musical Numbers Staged and Directed by".

Koreografer seringkali melakukan improvisasi untuk mencari hal-hal (gerakan maupun aksesori) yang paling sesuai dengan musik yang dimainkan. Meskipun biasanya digunakan di bidang seni tari, koreografi juga digunakan dalam berbagai bidang lain seperti: •Aksi tarung di panggung •Gimnastik •Ski •Pemandu sorak •Marching band •Opera Dan banyak aktivitas lain yang melibatkan aksi pergerakan manusia juga memanfaatkan koreografi. Berdasarkan pengalaman stimulus tingkatan perkembangan yang ada selanjutnya dijadikan orientasi garapan dan memunculkan ide sehingga gambaran konsep (hasil pengalaman masa lalu, pengalaman yang ada, ide kreatif) ke dalamannya dikaji secara benar sehingga maksud tari yang dibuat jelas dan konstruktif. Selanjutnya, berdasarkan pemetaan konsep dan ide garapan yang sudah dimatangkan disinkronisasikan ke dalam pemetaan lanjut dengan cara memperhatikan beberapa hal dibawah ini sebagai berikut: • Gagasan dasar dan latar belakang/tema tari sehingga tujuan yang digarap jelas. • Mengerti tentang keadaan, kebutuhan, penonton/lapangan kerja, • Gagasan dibuat artistik, orisionalitas, terutama dapat menimbulkan tanggapan emosional dan membangkitkan rasa, • Mempertimbangkan isi gerak, ruang, waktu, tenaga dan elemen komposisi • Mempertimbangkan pola garapan sebagai seni pertunjukan, • Mempertimbangkan koreografi Tunggal atau Kelompok.

 Dalam menata tari, sangat banyak istilah yang perlu diketahui. Diantaranya yang sering kita dengar adalah: a)Eksplorasi Proses pencarian, termasuk berpikir, berimajinasi, merasakan dan merespon. Di dalam koreografi, proses eksplorasi biasanya digunakan untuk menyebut kegiatan pencarian gerak.
b)Improvisasi Ditandai dengan adanya spontanitas. Gerakan yang dihasilkan mengalir begitu saja terjadi dengan mudah, dan setiap gerakan baru dapat menimbulkan gerakan lain yang dapat memperluas dan mengembangkan pengalaman. Gerakan yang dihasilkan dari improvisasi biasanya tidak dapat diulang kembali.
c)Komposisi Proses pemilihan, pengintegrasian, serta penyatuan dari gerak-gerak yang telah dihasilkan menjadi sebuah bentuk. Kesatuan yang terbentuk ini disebut tari.
d)Forming (Pembentukan) Membuat komposisi berarti kalian menata bagian-bagian yang saling berhubungan menjadi bentuk kesatuan yang utuh. Kemampuan dalam merangkai gerak tari ke dalam satu komposisi tidak dapat dipisahkan dengan kreativitas yan melalui tahapan seperti improvisasi dan eksplorasi, yang kemudian dipadukan dengan unsur-unsur yang terkait dengan pengetahuan tari dan artistic srta tingkah laku kreativitas maupun perkembangannya dan mempunyai tujuan. Menyusun atau mengkomposisi tari, memerlukan penekanan unsur tari dengan desain, irama, motivasi, ide. Dengan demikian unsur materi komposisi perlu dihayati dan dimengerti, metode penyusunan dan pengkombinasian berbagai unsur harus dipelajari dan dipraktekan. Sebagaimana yang sering dijabarkan bahwa materi dasar tari adalah gerak, maka belajar menari adalah belajar menguasai keterampilan psikomotorik dengan mengaitkan serta mengkoordinasikan gerakan-gerakan dari anggota tubuh. Dengan demikian pembelajaran gerak tari harus disesuaikan dengan kemampuan motorik siswa, yang bergantung pada kematangan otot.
e)Koreografi Lingkungan Hakekat seni sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Koreografi sebagai salah satu bidang seni, tentunya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan manusia. Artinya adalah, proses penciptaan tari harus dikembalikan kepada fungsinya bagi manusita itu sendiri. Sebuah karya koreografi adalah sebuah produk ciptaan manusia yang digunakan untuk berinteraksi baik dalam hubungannya dengan Tuhannya, dengan alam sekitar, dan manusia lainnya. Jadi sebuah keprihatinan apabila sebuah karya koreografi hanya berfungsi sebagai tontonan semata dan mengabaikan hakekatnya seperti yang kita dapati dalam berbagai pertunjukan. Berdasarkan uraian di atas, muncul sebuah konsep baru di dalam penciptaan seni pertunjukan. Konsep baru ini disebut dengan koreografi lingkungan. Koreografi lingkungan adalah proses penciptaan tari yang menitikberatkan pada kepedulian terhadap lingkungan, hasil akhirnya adalah sebuah karya seni yang dapat kita jadikan berisi nilai-nilai tentang lingkungan yang dapat kita jadikan renungan dan penyadaran. Konsep ini dikemukakan pertama kali oleh Prof. Sardono W. Kusumo, salah satu maestro tari Indonesia, yang karya-karyanya diakui oleh dunia. Dan sekarang konsep ini banyak dipelajari, dipakai dan dikembangkan oleh beberapa Perguruan Tinggi Seni di Indonesia. Materi yang diangkat menjadi tema pada koreografi lingkungan ini bisa keindahan alam sebagai pendukung dari nilai estetis karya koreografinya, ada yang berupa keprihatinan terhadap masalah-masalah dan kerusakan yang terjadi di lingkungan, ada juga yang menitikberatkan pada nilai historis dari sebuah tempat, atau juga ada yang berangkat dari adat turun-temurun di suatu tempat.

Salah satu contoh bentuk koreografi lingkungan adalah “Hutan Plastik” karya Sardono W. Kusumo. Karya ini mengangkat isu tentang penggundulan hutan sekaligus juga isu tentang serbuan barang-barang yang terbuat dari plastic di sekitar kita. Plastic adalah barang yang tidak bias didaur ulang oleh alam. Sehingga melalui karya ini koreografer mengajak kita untuk berpikir, membayangkan hutan yang gundul yang kemudian digantikan oleh tumpukan plastik. Karya lainnya adalah “Tatto Totem Parangtritis” oleh Bernadhetta ‘Kinting’ Sri hanjati. Koreografi ini mengangkat keindahan alam pantai Parangtritis untuk mengangkat estetika tat arias dan busana juga body painting yang disajikan. Dipentaskan tanggal 27 & 28 Juni 2004 di pantai Parangtritis. Contoh yang lain adalah “Asmaradana Sendang Kasihan” oleh Hendro Martono. Dipentaskan pada Sabtu (11/12) dan Minggu (12/12) pukul 19.30 WIB. Sendang kasihan adalah sebuah sumber mata air di Yogyakarta yang kini setiap harinya digunakan untuk mandi, mencuci, dan berenang bagi masyarakat sekitarnya. Latar belakang legenda sejarah sendang Kasihan merupakan awal gagasan menyusun koreografi ini. Sehingga pertunjukannya adalah rekonstruksi Sekar Pembayun pada waktu melakukan tapa kungkum di sendang Kasihan ini, lalu bersalin rupa menjadi penari ledhek (tayub). Gagasan tersebut berkembang dan berinteraksi dengan keruangan dan ketubuhan yang telah ditawarkan oleh sendang Kasihan. Melalui pendekatan koreografi lingkungan yang memanfaatkan unsur-unsur alam sebagai penopang aspek estetitis. Diharapkan terjadi simbiosis mutualisme antara sendang dengan koreografinya. Selain contoh di atas, masih banyak contoh-contoh karya dengan konsep koreografi lingkungan. Singkatnya, dengan menciptakan karya-karya koreografi lingkungan, maka kita akan melakukan sesuatu yang berguna bagi diri kita sendiri, orang lain dan lingkungan kita

Hakikat Apresiasi Sastra dan Sastra Anak-anak

Apresiasi berasal dari bahasa latin,apreciatoyang berarti “mengindahkan”atau menghargai.Berarti apresiasi sastra adalah penghargaan terhadap karya sastra.Munculnya penghargaanyang positif terhadap karya sastra merupakan manifestasi dari adanya pengetahuan tentang sastra,sejumlah pengamalan emosional,dan penajaman kognitif di bidang sastra ,serta pengalaman ketrampilan bersastra,baik secara reseptif maupun secara produktif.Hal tersebut sejalan dengan pendapat Disick yang menyatakan bahwa “aspek apresiasi yang berkaitan dengan sikap penghargaan atau nilai berada pada domain efektif merupakan tingkatan terakhir yang dapat dicapai ,pencapaiannya memerlukan waktu yang sangat panjang serta prosesnya berlangsung terus setelah pendidikan formal berakhir”(dalam Wardani,1981:1) Menurut S.Effendi(1980:24),apresiasi sastra adalah suatu kegiatan menggauli sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian,penghargaan,kepekaan pikiran kritis,dan kepekaan yang baik terhadap cipta rasa.Pendapat S.Effendi tersebut sejalan dengan pendapat Squire dan Taba(dalam Aminuddin,1987:34)yang menyatakan bahwa “apresiasi sastra mengandung tiga unsur,yaitu aspek kognitif,aspek emotif,dan aspek evaluatif”.Aspek kognitif sejalan pengertian,aspek emotif sejalandengan kepekaan perasaan,dan aspek evaluatif berkaitan dengan kepekaan pikiran perasaan dan penghargaanyang positif. Lalu apakah yang dimaksud pengertian,penghargaan,kepekaan pikiran kritis,dan kepekaan perasaan?Pertama,pengertian berkaitan dengan pehaman tentang teori-teori dasar sastra ,seperti pengertian puisi dan unsur-unsur instrinsik prosa.Kedua,penghargaan berkaitan dengan sikap pandangan positif terhadap sastra bahwa sastra memiliki nilai-nilai positif yang bermanfaat bagi penjernihan batin,peningkatan harkat kehidupan individual-sosial.Ketiga,kepekaan pikiran kritis berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengungkapkan sintetis tentang makna atau nilai-nilai yang dikandung suatu karya sastra setelah mengadakan analisis yang teliti,seksama dan menyeluruh.Adapun kepekaan perasaan berkaitan dengan kemampuan menikmati dan menampilkan nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam karya sastra,misalnya rasa senang tidak senang,berkenaan dengan cerita dan tokoh,perasaan takut dan kecewa,dan kagum berkenaan dengan gambaran peristiwa dalam cerita yang tergambar dalam ekspresi wajah. Berdasarkan pengertian –pengertian yang disampaikan diatas,dapat disimpulan bahwa apresiasi sastra adalah serangkaian kegiatan bermain dengan sastra sehingga tumbuh pemahaman ,penghargaan,kepekaan pikiran kritis,kepekaan perasaan yang baik bagi anak,terhadap karya sastra anak-anak.Sedangkan sastra anak-anak merupakan karya yang dari segi bahasa memiliki nilai estetis dan dari segi isi menganung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman ruhani bagi kalangan anak-anak.Secara konseptual,sastra anak-anak tidak jauh berbeda dengan sastra orang dewasa.Keduanya sama berada pada wilayah sastra yang meliputi kehidupan dengan segala perasaan,pikiran dan wawasan kehidupan.Yang membedakannya hanyalah dalam hal fokus pemberian gambaran kehidupan yang bermakna bagi anak yang diurai dalam karya tersebut.Sastra(dalam sastra anak-anak)adalah bentuk kreasi imajnatifdengan paparan bahasa tertentu yang menggambarkan dunia rekaan,menghadirkan pemahaman dan pengalaman tertentu dan mengandung nilai estetika tertentu yang bisa dibuat oleh orang dewasa ataupun anak-anak. Menurut Sochan dkk(1994:225)membagi pengertian sastra anak menajadi dua bagian,yaitu: Pertama,sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya remaja atau dewasa yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak. Kedua,sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya masih tergolong anak-anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak. Apakah sastra anak sastra yang ditulis oleh orang dewasa yang ditujukan untuk anak-anak atau sastra yang ditulis anak-anak untuk kalangan mereka sendiri tidaklah perlu ipersoalkan.Huck(1987)mengemukakan bahwa siapapun yang menulis sastra anak-anak tidak perlu dimasalahkan asalkan dalam penggambarannya ditekankan dalam kehidupan anak yang memiliki nilai kebermaknaan bagi mereka. Dalam kenyataannya,pengertian sastra anak tidak itu saja.Berikut ini adalah pengertian sastra anak-anak dari berbagai pandangan: Endraswara(2005:2007)mengungkapkan bahwa sastra anak merupakan “wajah sastra “yang fokus utamanya demi perkembangan anak.Didalamnya mencerminkan liku-liku kehidupan yang dapat dipahami oleh anak,melukiskan perasaan anak,dan menggambarkan pemikiran-pemikiran anak.Sastra anak hendaknya memiliki nilai-nilai tertentu yang dapat berpengaruh demi perkembangan kejiwaan anak.Sejalan dengan pendapat Edraswara,Norton(1993) mengungkapkan bahwa sastra anak-anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak melalui pandangan mereka. Berbeda dengan pengertian sastra anak yang diungkapkan oleh Norton, Hunt( dalam Witakania:2008)medefinisikan sastra anak-anaksebagai buku bacaan yang dibaca oleh,yang secara khusus cocok untuk dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak.Jadi,sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak.Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak ,sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak,sehingga dapat memuaskan mereka. Pramuki(2000) mengungkapkan bahwa sastra anak-anak adalah karya sastra(prosa,puisi,dan drama) yang isinya mengenai anak-anak.Sesuai kehidupan, kesenangan,sifat-sifat dan perkembangan anak-anak.Seain itu Wahidin(2009),menyatakan sastra anak sebagai karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak,yaitu anak yang berusia 6-13 tahun. Dari pendapat-pendapat tentang pengertian sastra anak-anak diatas,dapat dikatakan bahwa sastra anak-anak adalah suatu karya sastra yang bahasa dan isinya sesuai perkembangan usia dan kehidupan anak ,baik ditulis oleh pengarang yang sudah dewasa,remaja,atau oleh anak-anak itu sendiri.Karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa,melainkan juga dalam bentuk drama. Tingkatan Apresiasi Sastra Adapun tingkatan apresiasi sastra ,Wardani(1981)membagi tingkatan apresiasi sastra menjadi empat tingkatan,yaitu: 1. Tingkat menggemari,yang ditandai oleh adanya rasa tertarik terhadap buku-buku sastra serta keinginan membacanya dengan sungguh-sungguh,anak melakukan kegiatan kliping sastra secara rapi,atau membuat koleksi pustaka mini tentang karya sastra dari berbagai bentuk. 2. Tingkat menikmati,yaitu mulai dapat menikmati cipta sastra karena mulai tumbuh pengertian,anak dapat merasakan nilai etetis saat membaca puisi anak-anak atau menonton dram anak-anak. 3. Tingkat mereaksi,yaitu mulai ada keinginan untuk menyatakan pendapat tentang cipta sastra yang dinikmati,misalnya menulis sebuah resensi dan berdebat dalam suatu diskusi sastra secara sederhana. 4. Tingkat produktif,yaitu mulai ikut menghasilkan cipta sastra diberbagai media masa,seperti Koran,majalah,atau majalah dinding sekolah yang tersedia baik dalam bentuk puisi,prosa,dan drama. Berbeda dengan P.Suparman(Tarigan,2000)membagi tingkatan apresiasi sastra menjadi lima tingkatan ,yaitu: a. Tingkat penikmatan,misalnya menikmati menonton drama,membaca cerita,atau membaca puisi b. Tingkat penghargaan,misalnya memetik pesan positif dalam cerita mengagumi suatu karya sastra meresapkan nilai-nilai humanistik dalam jiwa,menghayati amanat yang terkandung dalam puisi yang dibacanya. c. Tingkat pemahaman,misalnya mengungkapkan pesan-pesan yang terkandung dalam karya satra setelah menganalisis unsur instrinsik-ekstrinsiknya,baik karya puisi,prosa maupun drama anak-anak d. Tahapan penghayatan,misalnya mengubah bentuk karya sastra tertentu kedalam bentuk lainnya(paraphrase). e. Tingkat implikasi ,misalnya mengamalkan isi sastra,mendayagunakan hasil apresiasi sastra untuk kepentingan peningkatan harkat kehidupan. Jenis Sastra Anak- anak Sastra anak-anak dibagi kedalam bebrapa jenis,yaitu: fiksi, nonfiksi, puisi, sastra tradisional, dan komik. Menurut Framuki(2007), sastra anak-anak yang bersifat imajinaif dapat dibagi atas tiga macam, yaitu: puisi, prosa, dan drama. Berdasarkan pendapat tersebut, sastra anak-anak dibagi menjadi tiga, yaitu: a.Puisi Sudjiman(dalam Nadeak:1985:7)menyatakan bahwa puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama,matra,rima,serta penyusunan larik dan bait.Sejalan dengan pendapat Sudjiman,Ralp Waldo Emmerson mengatakan puisi adalah mengajarkan sebanyak-banyaknya dengan kata yang sedikit-dikitnya .Sedangkan Mattew Arnold mengatakan bahwa puisi adalah satu-satunya cara yang paling indah, impresif,dan paling efektif mendendangkan sesuatu(dalam Situmorang :1981:9).Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang berbentuk untaian bait demi bait yang relative memperhatikan irama dan rima sehingga sungguh indah dan efektif didendangkan dalam waktu yang relatif singkat dibanding dengan karya sastra lainnya. Waluyo(1987)mengolompokkan puisi berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi yang hendak disampaikan ,yaitu: 1.Puisi Naratif Puisi naratif adalah puisi yang isinya berupa cerita.Penyair menyampaikan gagasannya dalam bentuk puisi dengan cara naratif yang di dalamnya terdapat pelaku yang berkisah. Misalnya penggalan puisi di bawah ini: DESAKU Nurfikri Hagu Sebuah nama selalu merdu Ditelingaku Setiap waktu Alammu Nyiurmu Pantaimu Memanggil daku selalu Untuk tidak jauh dari sisimu . . . .. .. . . . . . . .(dikutip dalam pedoman rakyat,2002 oleh Nurfikri) 2.Puisi lirik Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan gagasan pribadinya dengan cara tidak bercerita. Puisi lirik dapat berupa pengungkapan pujaan terhadap seseorang. Misalnya penggalan puisi dibawah ini: R.A KARTINI Engkau pendekar bangsa Pahlawan wanita Indonesia Engkau korbankan jiwa dan raga Engkau lahir di istana Tiada kurang satu apapun Tapi kau tak terlena Melihat kaummu menderita . . . . . . . . . .(Herni Maya Sari,Kelas V SD 042 Balikpapan) 3.Puisi deskriptif Puisi deskriptif adalah puisi dimana penyair mengungapkan gagasannya dengan cara melukiskan sesuatu untuk mengungkapkan pesan,peristiwa,pengalaman menarik yang pernah dialaminya.Misalnya penggalan puisi yang menggambarkan keindahan alam berikut: ALAM YANG INDAH Lenny Ch.M Sungguh indah alam Ciptaan Tuhan Hewan,Burung,Ikan Tumbuh-tumbuhan Bintang dan Bulan Segenap Tata Surya Memuji Tuhan . . . . . . . . . . . . b.Prosa Surana(1984:105),mengungkapkan bahwa prosa adalah bentuk karangan sastra dengan bahasa biasa,bukan puisi,terdiri atas kalimat-kalimat yang jelas pula runtutan pemikirannya,biasanya ditulis satu kalimat setelah kalimat yang laindalam kelompok-kelompok yang merupakan alinea-alinea. Pengertian prosa yang diungkapkan Surana diatas,saling melengkapi dengan pengertian prosa fiksi atau narasi,yang digambarkan oleh Aminuddin(2004:66),yaitu bahwa prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dalam pemeranan,latar serta tahapan dan rangakaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Berdasarkan kedua pengertian diatas,dapat dikatakan bahwa prosa fiksi anak-anak adalah karya sastra yang tidak dibuat atas rangkaian bait demi bait,tetapi dibuat ats rangkaian paragraf demi paragraf dengan merangkaikan unsur-unsur seperti tempat,waktu,suasana,kejadian,alur,peristiwa,pelaku berdasarkan tema cerita tertentu yang diperoleh secara imajinatif. Cullinan(1989)menyebutkan beberapa jenis prosa fiksi,antara lain: 1. Prosa fiksi sains Prosa fiksi sains adalah cerita fiksi yang disusun dengan menekankan pada isi yang disampaikan.Isi yang disampaikan berupa pengetahuan atau bersifat factual.Namun demikian,isi yang faktual tersebut disusun dalam bentuk cerita fiksi dengan cara menentukan pelaku,latar dan alur. 2. Prosa fiksi realistik Prosa fiksi realistik adalah cerita yang disusun dengan tujuan menyampaikan sesuatu yang mengandung nilai-nilai kehidupan yang logis,baik berkaitan dengan etika,moral,religius,dan nilai-nilai lainnya.Nilai-nilai tersebut diungkapkan dalam prosedur bercerita dengan menentukan tema,latar,alur,penokohan,sudut pandang,dan amanat yang ingin disampaikan. 3. Prosa fiksi imajinatif Prosa fiksi imajinatif adalah cerita yang didalamnya menyajikan rangkaian peristiwa yang pelaku-palakunya hanya ada di dunia dalam dunia imajinasi pengarang ,tidak ada dalam dunia sehari-hari. c.Drama Menurut Surana(1984),drama adalah karangan prosa atau puisi yang berbentuk dialog dan keterangan laku untuk ditunjukkan diatas pentas .Sejalan dengan pengertian drama yang di ungkapkan Surana,Hermawan(1988:2),mengungkapkan pengertian drama yaitu bahwa drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton. Jadi drama merupakan karya sastra yang dipakai sebagai medium pengungkapan gagasan atau perasaan melalui serangkaian dialog antarpelaku dan adegan,yang tujuan utamanya bukan untuk dibacakan secara estetis melainkan untuk dipertunjukkan. Tema Sastra Anak- anak yang Baik Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila disuguhi bahan bacaan yang sesuai pula.Sastra yang akan disuguhkan pada anak harus mengandung tema yang mendidik,alurnya lurus dan tida berbelit-belit,menggunakan setting yang ada di sekitar mereka atau atau ada didunia mereka,tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik gaya bahasanya mudah dipahami,tapi mampu mengembangkan bahasa anak,sudut pandang orang yang tepat,dan imajinasi masih dalam jangkauan anak.(Puryanto:2008:2) Sesuai dengan sasaran pembacanya,sastra anak dituntut untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari sastra orang dewasa hingga dapat diterima anak dan dipahami mereka dengan baik.Sastra anak merupakan pembayangan atau pelukisan kehidupan anak yang imajinatif kedalam bentuk struktur bahasa anak.Sastra tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai anak-anak ,tetapi sastra untuk anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak selaku pembacanya . (Puryanto:2008:2) Sarumpet( dalam Puryanto,2008:3)mengataka persoalan-persoalan yang menyangkut masalah cinta yang erotis,kebencian,kekerasan dan prasangka,serta masalah hidup mati,tidak didapati sebagai tema dalam bacaan anak .Begitu pula bacaan yang mengenai perceraian penggunaan obat terlarang ataupun perkosaan merupakan hal yang dihindari dalam bacaan anak. Dunia anak-anak yang berkisar antara masa kanak-kanak yang tumbuh menuju masa remaja ,diantara keluarga dan teman sebaya yang penuh dengan pengalaman pribadi membawa warna baru dalam dunia sastra anak-anak,khususnya pada cerita realistik.Cerita realistik sebagai salah satu jenis sastra anak-anak merupakan cerita yang sarat dengan isi yang mengarahkan pada prosespemahaman dan pengenalan diatas.Isi yang dimaksud tergambar dalam inti pokok tema-tema cerita yang diungkap.Tema-tema tersebut dapat dibagi dalam beberapa jenis,misalnya tema keluarga,hidup bersama orang lain,berteman dan penerimaan oleh teman bermain),tumbuh dewasa,mengatasi masalah-masalah manusiawi,dan hidup dalam masyarakat majemukyang memuat perbedaan individu dan kelompok.Masalah keluarga merupakan tema yang sangat dekat dengan kehidupan anak.Dalam keluarga,pribadi anak dilatih,mereka tumbuh seiring dengan pemahamannya akan cinta dan benci,takut dan berani,serta suka dan sedih. Sifat Sastra Anak- anak Sifat sastra anak-anak adalah imajinasi semata,bukan berdasarkan pada fakta.Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak.Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa.Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan(Wahidin,2009) Menurut Davis(Endaswara ,2005:212)ada empat sifat sastra anak-anak,yaitu: a.Tradisional,yaitutumbuh dari lapisan rakyat sejak zaman dahulu dalam bentuk mitologi,fable,dongeng,legenda ,dan kisah kepahlawanan yang romantis b.Idealistis,yaitu sastra yang memuat nilai-nilai universal,dalam arti didasarkan hal-hal terbaik penulis zaman dahulu dan kini c.Populer,yaitu sastra yang berisi hiburan,yang dapat menyenangkan anak-anak d.Teoritis,yaituyang dikonsumsikan kepada anak-anak dengan bimbingan orang dewasa serta penulisannya dekerjakan oleh orang dewasa pula Manfaat Sastra Anak- anak Sebagai sebuah karya sastra sastra anak-anak menyajikan sesuatu bagi pembacanya yaitu nilai yang terkandung di dalamnya yang dikemas secara instrinsik maupun ekstrinsik .leh karena itu kedudukan sastra anak menjadi penting bagi perkembangan anak.Sebuah karya dengan penggunaan bahasa yang efektif akan membuahkan pengalaman yang estetik bagi anak.Penggunaan bahasa yang imajinatif dapat menghasilkan response-responsi intelektual dan emosional dimana anak akan merasakan dan menhayati peran tokoh dan konflik yang akan ditimbulkannya,juga membantu mereka menghayati keindahan ,keajaiban,kelucuan,kesedihan dan ketidakadilan.Anak-anak akan merasakan bagaimana memikul penderitaan dan mengambil resiko,juga akan ditantang untuk memimpikan berbaga mimpi serta merenungkan dan mengemukakan berbagai masalah mengenai dirinya sendiri,orang lain dan dunia sekitarnya.(Huck,1987) Pengalaman bersastra diatas akan diperoleh anak dari manfaat yang dikandung sebuah karya sastra lewat unsur intrinsik didalamnya,yakni: a.memberi kesenangan ,kegembiraan,dan kenikmatan bagi anak-anak b.mengembangkan imajinasi anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam,kehidupan,pengalaman atau gagasan dengan berbagai cara c.memberikan pengalaman baru yang seolah dirasakan dan dialaminya sendiri d.mengembangkan wawasan kehidupan anak menjadi perilaku kemanusiaan e.menyajikan dan memperkenalkan anak terhadap pengalaman universal f.meneruskan warisan sastra Selain unsur intrinsik diatas,sastra anak juga bernilai ekstrinsik yang bermafaat untuk perkembangan anak,terutama dalam hal perkembangan bahasa,perkembangan kognitif,perkembangan kepribadian,dan perkembangn sosial.Sastra yang diwujudkan untuk anak-anak,selain ditujukan untuk mengembangkan imajinasi,fantasi dan daya kognisi,yang akan mengarahkan anak pada pemunculan daya kreatifitas,juga bertujuan mengarahkan anak pada pemahaman yang baik tentang alam dan lingkungan serta pengenalan pada perasaan dan pikiran tentang diri sendiri dan orang lain.

Wednesday, March 3, 2010

Hikayat Hang Tuah

Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak Hang
Mahmud. Mereka bertempat tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orang
di Sungai Duyung mendengar kabar teng Raja Bintan yang baik dan sopan kepada
semua rakyatnya.
Ketika Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada
istrinya yang bernama Dang Merdu,”Ayo kita pergi ke Bintan, negri yang besar itu,
apalagi kita ini orang yang yang miskin. Lebih baik kita pergi ke Bintan agar lebih
mudah mencari pekerjaan.
Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit.
Cahayanya penuh di atas kepala Hang Tuah. Hang Mahmudpun terbangun dan
mengangkat anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti
wangi-wangian. Siang harinya, Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepada
istri dan anaknya. Setelah mendengar kata suaminya, Dang Merdu pun langsung
memandikan dan melulurkan anaknya.
Setelah itu, ia memberikan anaknya itu kain,baju, dan ikat kepala serba
putih. Lalu Dang Merdu member makan Hang Tuah nasi kunyit dan telur ayam,
ibunya juga memanggil para pemuka agama untuk mendoakan selamatan untuk
Hang Tuah. Setelah selesai dipeluknyalah anaknya itu.
Lalu kata Hang Mahmud kepada istrinya,”Adapun anak kita ini kita jaga baik-baik,
jangan diberi main jauh-jauh.

Keesokan harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untuk
persediaan. Lalu ada pemberontak yang datang ke tengah pasar, banyak orang
yang mati dan luka-luka. Orang-orang pemilik took meninggalkan tokonya dan
melarikan diri ke kampong. Gemparlah negri Bintan itu dan terjadi kekacauan
dimana-mana. Ada seorang yang sedang melarikan diri berkata kepada Hang Tuah,
Hai, Hang Tuah, hendak matikah kau tidak mau masuk ke kampung.?
Maka kata Hang Tuah sambil membelah kayu,”Negri ini memiliki prajurit dan
pegawai yang akan membunuh, ia pun akan mati olehnya.
Waktu ia sedang berbicara ibunya melihat bahwa pemberontak itu menuju Hang
Tuah samil menghunuskan kerisnya. Maka ibunya berteriak dari atas toko,
katanya,”Hai, anakku, cepat lari ke atas toko!
Hang Tuah mendengarkan kata ibunya, iapun langsung bangkit berdiri dan
memegang kapaknya menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak itu datang
ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya bertubi-tubi. Maka Hang Tuah pun
Melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah lalu mengayunkan
kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelalah kepala orang itu dan mati. Maka kata
seorang anak yang menyaksikannya,”Dia akan menjadi perwira besar di tanah
Melayu ini.
Terdengarlah berita itu oleh keempat kawannya, Hang Jebat, Hang Kesturi,
Hang Lekir, dan Hang Lekui.

----------------------- Page 2-----------------------

Mereka pun langsung berlari-lari mendapatkan Hang Tuah. Hang Jebat dan
Hang Kesturi bertanya kepadanya,”Apakah benar engkau membunuh pemberontak
dengan kapak?”
Hang Tuah pun tersenyum dan menjawab,”Pemberontak itu tidak pantas
dibunuh dengan keris, melainkan dengan kapak untuk kayu.
Kemudian karena kejadian itu, baginda raja sangat mensyukuri adanya sang
Hang Tuah. Jika ia tidak datang ke istana, pasti ia akan dipanggil oleh Sang Raja.
Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan pegawai-pegawai lain yang juga iri hati
kepada Hang Tuah. Setelah diskusi itu, datanglah mereka ke hadapan Sang Raja.
Maka saat sang Baginda sedang duduk di tahtanya bersama para
bawahannya, Tumenggung dan segala pegawai-pegawainya datang berlutut, lalu
menyembah Sang Raja, “Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat, ada
banyak berita tentang penghianatan yang sampai kepada saya. Berita-berita itu
sudah lama saya dengar dari para pegawai-pegawai saya.
Setelah Sang Baginda mendengar hal itu, maka Raja pun terkejut lalu
bertanya, “Hai kalian semua, apa saja yang telah kalian ketahui?
Maka seluruh menteri-menteri itu menjawab, “Hormat tuanku, pegawai saya
yang hina tidak berani datang, tetapi dia yang berkuasa itulah yang melakukan hal
ini.
Maka Baginda bertitah, “Hai Tumenggung, katakana saja, kita akan
membalasanya.
Maka Tumenggung menjawab, “Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat,
untuk datang saja hamba takut, karena yang melakukan hal itu, tuan sangat
menyukainya. Baiklah kalau tuan percaya pada perkataan saya, karena jika tidak,
alangkah buruknya nama baik hamba, seolah-olah menjelek-jelekkan orang itu.
Setelah Baginda mendengar kata-kata Tumenggung yang sedemikian itu,
maka Baginda bertitah, “Siapakah orang itu, Sang Hang Tuah kah?
Maka Tumenggung menjawab, “Siapa lagi yang berani melakukannya selain
Hang Tuah itu. Saat pegawai-pegawai hamba memberitahukan hal ini pada hamba,
hamba sendiri juga tidak percaya, lalu hamba melihat Sang Tuah sedang berbicara
dengan seorang perempuan di istana tuan ini. Perempuan tersebut bernama Dang
Setia. Hamba takut ia melakukan sesuatu pada perempuan itu, maka hamba
dengan dikawal datang untuk mengawasi mereka.
Setelah Baginda mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya berwarna
merah padam. Lalu ia bertitah kepada para pegawai yang berhati jahat itu,
“Pergilah, singkirkanlah si durhaka itu!

Maka Hang Tuah pun tidak pernah terdengar lagi di dalam negri itu, tetapi si
Tuah tidak mati, karena si Tuah itu perwira besar, apalagi di menjadi wali Allah.
Kabarnya sekarang ini Hang Tuah berada di puncak dulu Sungai Perak, di sana ia
duduk menjadi raja segala Batak dan orang hutan. Sekarang pun raja ingin bertemu

----------------------- Page 3-----------------------

dengan seseorang, lalu ditanyainya orang itu dan ia berkata, “Tidakkah tuan ingin
mempunyai istri?
Lalu jawabnya, “Saya tidak ingin mempunyai istri lagi. Demikianlah cerita Hikayat Hang Tuah.

HIKAYAT AMIR HAMZAH

Adalah seorang raja di Medain, bernama Kobad Syahriar. Sedang perdana menteri kerajaan itu bernama Khawajeh Alqasy. Perdana menteri ini bersahabat karib dengan seseorang yang bernama Bakhti Jamal. Bermula persahabatan dua orang inilah cerita Amir Hamzah dimulai.Suatu hari, Kawajeh memberi tahu sahabatnya, Bakhti Jamal bahwa temannya itu akan mendapat celaka. Untuk menghindari azab itu, Bakhti Jamal harus tingal di dalam rumah selama 40 hari. Dan sebagai orang yang sangat percaya dengan sahabatnya, Bakhti Jamal melakukan hal yang disarankan sahabatnya tersebut.Tetapi, pada hari ke-39, Khawajeh mengajak Bakhti berjalan-jalan. Sebenarnya Bakhti sudah curiga, karena Khawajeh menganjurkan ia tinggal di dalam rumah selama 40 hari, tetapi mengapa pada hari ke-39 sahabatnya mengajaknya berjalan-jalan ke luar rumah. Tetapi karena Bakhti percaya bahwa Khawajeh adalah sahabatnya, maka menurut pulalah Bakhti.Entah karena apa, Bakhti Jamal tiba-tiba menemukan harta karun yang sangat banyak. Dan seperti yang pernah ia khawatirkan sebelumnya, ternyata persahabatan Khawajeh tidak tulus. Karena menginginkan harta karun itu, Khawajeh membunuh Bakhti. Sebelum meninggal, Bakhti berpesan kepada Khawajeh yang curang itu agar menjaga istrinya yang sedang hamil dan anaknya yang akan lahir. Sebagai wujud sesalnya, Khawajeh pun menyanggupi permohonan sahabatnya yang telah dibunuhnya itu.Akhirnya janda Bakhti melahirkan seorang anak yang diberi nama Buzur Jamir. Buzur Jamir adalah seorang anak yang cerdas. Ketika baru berusia sembilan tahun, ia sudah menamatkan pelajarannya dan jadilah ia seorang ahli nujum. Karena profesinya inilah ia menjadi tahu pula siapa yang sebenarnya telah membunuh ayahnya. Khawajeh sangat takut mengetahui hal itu dan berencana menghabisi Buzur Jamir melalui perantaraan orang lain. Tetapi orang suruhan itu tidak jadi membunuh Buzur dan hanya menyembunyikannya saja.Dan pembalasan pun datang. Suatu ketika, raja Kobad Syahriar bermimpi. Sebaai seorang perdana menteri, dipanggilnyalah Khawajeh untuk menafsirkan mimpi raja. Ternyata Khawajeh tidak dapat menafsirkan mimpi itu. Maka raja pun memanggil Buzur sebagai seorang nujum. Dengan rinci Buzur menjelaskan makna mimpi sang raja. Lewat perjumpaan dengan raja itulah Buzur mengadukan semua yang dialami dan menimpa almarhum ayahnya yang telah dibunuh oleh Khawajeh. Maka murkalah raja kepada Khawajeh dan menyuruhnya untuk dihukum mati. Seluruh harta ayahnya yang telah dirampas oleh Khawajeh dikembalikan kepada Buzur. Tidak hanya itu saja, Buzur akhirnya diangkat menjadi perdana menteri di Medain, menggantikan Khawajeh.Sejak saat itu pulalah Buzur selalu menjadi penasihat raja. Buzur meramal bahwa Raja akan mendapat seorang putera dan sebaiknya dimakai Nusyirwan. Buzur meramal juga bahwa musuh akan datang dari Arab, sehingga raja memerintahkan untuk membunuh semua perempuan yang sedang hamil.Nun di tempat lain, di Mekah, adalah seorang yang bernama Abdul Muthalib yang memperoleh seorang putra dan diberi nama Amir Hamzah. Sedangkan bujangnya, Omayya al-Damri juga mendapat seorang anak yang dinamainya Amir ibn Omayya. Buzur yang mendapat tugas dari raja untuk membunuh semua perempuan hamil dan bayi yang baru lahir tidak tega membunuh dua bayi itu. Bahkan dalam pengelihatannya, kedua bayi itu akan menjadi orang besar. Maka kedua bayi itu tidak dibunuhnya.Waktu berlalu. Raja Kobad mangkat dan digantikan oleh Nusyirwan putranya. Amir Hamzah (Hamzah) dan Amir ibn Omayya (Amir) mulai beranjak dewasa. Mereka berdua belajar memanah. Suatu ketika mereka berdua berhasil menyelamatkan upeti Mekah yang dikirim kepada raja Nusyirwan. Penyamun yang akan merampas upeti itu akhirnya menyerah pada Hamzah dan menjadi pengiring Hamzah yang setia.Hamzah jatuh hati pada puteri raja Nusyirwan. Nama putri itu Mihrnigar. Putri itu pun jatuh cinta kepadanya. Ketika mereka berdua sedang bercumbu di dalam istana, Raja Nusyirwan melihatnya. Maka murkalah raja dan berencana menangkap Hamzah. Berbagai macam cara ditempuh untuk membunuh Hamzah. Berbagai tipu muslihat dicoba, tetapi Hamzah berhasil lolos. Pernah raja mengumpankan anaknya. Tetapi putrinya justru tertawan oleh Hamzah. Dan pada hari ketiga, kedua putri raja itu diantar kembali ke istana.Begitulah hikayat ini kemudian secara panjang lebar mengisahkan perjalanan Hamzah yang menolong Azra memerangi Ifrit. Hamzah yang diberi hadiah topi ajaib Sulaiman oleh Azra. Hamzah yang ditangkap oleh Herba Diw, anak Ifrit tetapi akhirnya berhasil membunuhnya. Dan akhirnya Hamzah yang berhasil menikahi Azman, kemenakan raja. Demikianlah hikayat Amir Hamzah. Hikayat ini merupakan hikayat perang yang sangat digemari. Ceritanya sangat panjang. Cerita Amir Hamzah ini semakin berkembang oleh orang Parsi yang sangat hormat pada Amir Hamzah. Hikayat ini juga tersebar di wilayah nusantara dengan versi bahasa daerah masing-masing.