Monday, April 19, 2010

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika.

a. Sejarah singkat

Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT Asia-Afrika) kadang juga disebut konferensi Bandung adalah sebuah konferensi tingkat tinggi antara Negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KTT ini diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar, Sri Lanka (dahulu Ceylon), India, dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Roeslan Abdulgani. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April – 24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau Negara imperialis lainnya. Dua puluh sembilan Negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk berkonsultasi dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang mempengaruhi Asia pada masa Perang Dingin. Kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat. Keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak barat. Penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial Perancis di Aljazair, dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat. Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut “Dasasila Bandung“ yang berisi tentang “pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerja sama dunia”. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.

*Pelopor Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika.

 Ali Sastroamidjojo – Indonesia
 Jawaharlal Nehru – India
 John Kotewala – Sri Lanka
 Muhammad Ali Bogra – Pakistan
 U Nu – Myanmar

*Kilas Balik KTT Asia-Arika

Menuju Terbentuknya Gerakan Negara-negara Non-Blok.

1. 23 Agustus 1953 – Perdana menteri Ali Sastroamidjojo (Indonesia) di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara mengusulkan perlunya kerja sama antara Negara-negara di Asia dan Afrika bagi perdamaian dunia.
2. 25 April – 2 Mei 1954 – Berlangsung Persidangan Kolombo di Sri Lanka. Hadir dalam pertemuan tersebut para pemimpin dari India, Pakistan, Burma (sekarang Myanmar), dan Indonesia. Dalam konferensi ini Indonesia memberikan usulan perlu adanya Konferensi Asia-Afrika.
3. 28 – 29 Desember 1954 – Untuk mematangkan gagasan masalah Persidangan Asia-Afrika, diadakan Persidangan Bogor. Dalam persidangan ini dirumuskan lebih rinci tentang tujuan persidangan, serta siapa saja yang akan diundang. Konferensi Bogor menghasilkan empat tujuan pokok Konferensi Asia-Afrika, yaitu :
 Untuk memajukan goodwill (kehendak yang luhur) dan kerja sama antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika, untuk menjelajah serta memajukan kepentingan-kepentingan mereka, baik yang silih berganti maupun yang bersama, serta untuk menciptakan dan memajukan persahabatan serta perhubungan sebagai tetangga baik.
 Untuk mempertimbangkan soal-soal yang berupa kepentingan khusus bangsa-bangsa Asia dan Afrika, misalnya soal-soal yang mengenai kedaulatan nasional dan tentang masalah-masalah rasialisme dan kolonialisme.
 Untuk mempertimbangkan soal-soal serta hubungan-hubungan di lapangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan Negara yang diwakili.
 Untuk meninjau kedudukan Asia dan Afrika, serta rakyat-rakyatnya di dalam dunia dewasa ini serta sumbangan yang dapat mereka berikan guna memajukan perdamaian serta kerja sama di dunia.
4. 18 – 24 April – Konferensi Asia-Afrika berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung. Persidangan ini diresmikan oleh Presiden Soekarno dan diketuai oleh PM Ali Sastroamidjojo. Hasil dari persidangan ini berupa persetujuan yang dikenal dengan nama Dasasila Bandung.

b. Dasasila Bandung.

Dasasila Bandung adalah 10 poin hasil pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika yang dilaksanakan pada bulan April 1955 di Bandung (Indonesia). Substansi Dasasila Bandung berisi tentang “pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerja sama dunia”. Dasasila Bandung memasukkan prinsip-prinsip dalam piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru, sebagai berikut :

1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB.
2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
4. Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam persoalan-persoalan dalam negeri Negara lain.
5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara individu maupun secara kolektif, yang sesuai dengan piagam PBB.
6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu Negara-negara besar, tidak melakukan campur tangan terhadap Negara lain.
7. Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas territorial atau kemerdekaan politik suatu Negara.
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrase, atau penyelesaian masalah hukum, ataupun lain-lain dengan cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan piagam PBB.
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama.
10. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

c. Gerakan Non-Blok.

Gerakan Non-Blok (GNB / Non-Aligned Movement (NAM)) adalah suatu organisasi internasional yang terdiri dari lebih dari 100 negara yang tidak menganggap dirinya beraliansi dengan atau terhadap blok kekuatan besar apa pun. Mereka merepresentasikan 55 persen penduduk dunia dan hampir 2/3 keanggotaan PBB. Negara-negara yang telah menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok adalah Yugoslavia, Mesir, Zambia, Aljazair, Sri Lanka, Kuba, India, Zimbabwe, Indonesia, Kolombia, Afrika Selatan, dan Malaysia. GNB dibentuk pada tahun 1961 oleh Joseph Broz Tito (Presiden Yugoslavia), Soekarno (Presiden Indonesia), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana menteri India), Kwane (Presiden Ghana) dan membawa Negara-negara lain yang tidak ingin beraliansi dengan Negara-negara adidaya peserta Perang Dingin bersama. Anggota-anggota penting termasuk India, Mesir, dan untuk suatu masa, Republik Tiongkok. Brazil tidak pernah menjadi anggota resmi gerakan tersebut. Meskipun organisasi ini dimaksudkan untuk menjadi aliansi yang dekat seperti NATO atau Pakta Warsawa, Negara-negara anggotanya tidak pernah mempunyai kedekatan yang diinginkan dan banyak anggotanya yang akhirnya diajak beraliansi dengan salah satu dari Negara-negara adidaya tersebut. Misalnya, Kuba mempunyai hubungan yang dekat dengan Uni Soviet pada masa Perang Dingin.


*Pertemuan-pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Negara-negara Non Blok, secara berurutan dapat disampaikan sebagai berikut :

1. Beograd (September 1961) : Dihadiri oleh 25 anggota, masing-masing 11 dari Asia dan Afrika bersama dengan Yugoslavia, Kuba, dan Siprus. Kelompok ini mendedikasikan dirinya untuk melawan kolonialisme, imperialisme, dan neo-kolonialisme.
2. Kairo (Mesir) 1964 : Pertemuan tersebut dihadiri 56 negara anggota dimana anggota-anggota barunya datang dari Negara-negara merdeka baru di Afrika. Kebanyakan dari pertemuan itu digunakan untuk mendiskusikan konflik Arab-Israel dan perang India-Pakistan.
3. Lusaka (Tanzania) 1969 : Dihadiri oleh 54 negara dan salah satu poin yang paling penting dalam pertemuan KTT tersebut adalah membentuk sebuah organisasi permanent untuk menciptakan hubungan ekonomi dan politik. Kenneth Kauda memainkan peranan yang penting dalam even tersebut.
4. Aljazair 1973.
5. Kolombo (Sri Lanka) 1976.
6. Havana (Kuba) 1979.
7. New Delhi (India) 1983.
8. Harare (Zimbabwe) 1986.
9. Beograd (Yugoslavia) 1989.
10. Jakarta (Indonesia) 1992.
11. Kolombia 1995.
12. Kairo (Mesir) 1998.
13. Malaysia (Februari 2003) : Namun, GNB kini tampak semakin tidak mempunyai relevan sejak berakhirnya Perang Dingin.

d. Tujuan Gerakan Non-Blok.

Tujuan Gerakan Non-Blok telah ditetapkan dalam KTT 1 DI Beograd pada tahun 1961. Tujuan ini selalu ditegaskan kembali dalam deklarasi yang dihasilkan dalam setiap konferensi-konferensi KTT Non-Blok. Tujuan didirikannya Gerakan Non-Blok adalah :

1. Mendukung perjuangan dekolonialisasi dan memegang teguh perjuangan melawan imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme, rasialisme apartheid, dan zionisme.
2. Wadah perjuangan Negara-negara yang sedang berkembang.
3. Mengurangi ketegangan Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet (Rusia).
4. Tidak membenarkan usaha penyelesaian sengketa dengan kekerasan senjata.

2 comments: